Minggu, 18 Agustus 2013
LAKON KANOMAN DAN KASEPUHAN
Yang dinamakan lakon wetanan itu adanya di Kanoman, yaitu di kadipaten
sedangkan yang dinamakan kulonan itu adanya di dalam Kasepuhan, kraton.
Bedanya lakon wetanan dan kulonan itu sebenarnya masih menjadi satu,
sedangkan grebanya lebih banyak lakon wetanan karena banyak lakon carangan
(anggitan). Adanya lakon seperti itu karena lakon wetanan itu ketika jaman
Mataram ditundukkan, Nyai Panjangmas melarikan diri ke timur.
Memainkan wayangnya menggunakan dagelan Semar ditemani Bagong,
sedangkan lakonnya dibuat ramai, banyak keluarnya wayang dan banyak
perangnya (sabetan) supaya kelihatan panjang ceritanya, cerita dan ucapan
wayang dikurangi jangan sampai kehabisan cerita dalam memainkan wayang
semalam itu karena yang memainkan adalah wanita, yang sudah terbiasa
menunggui suaminya memainkan wayang kalau sedang mendalang, yaitu Kyai
Panjangmas.
Jadi memainkan wayang hanya karena terbiasa menunggui dan melihat
kalau suaminya bekerja memainkan wayang. Sedangkan lakon kulonan untuk di
kasepuhan dimainkan oleh Kyai Panjangmas setelah runtuhnya Negara Mataram.
Di Kedu ke barat sampai batas Cirebon sampai tanah Pasundan. Cara Kyai
Panjangmas memainkan wayang dengan menggunakan dagelan Semar, Gareng
dan Petruk. Makanya sampai sekarang kalau Yogyakarta ke barat sampai
Banyumas, dagelannya kebanyakan hanya Semar, Gareng dan Petruk. Setelah
sampai jaman baru ini lalu ditambah dengan Bagong, sedangkan kalau Pacitan ke
timur sampai Pasuruhan, orang-orang di sana kebanyakan sudah terbiasa dengan
Semar dan Bagong, sedangkan Bagong kalau di daerah wetanan dinamakan
Mangundiwangsa.
B. Lakon Jejer
Lakon jejer itu cerita yang dimainkan di rumah beberapa malam. Misalnya
memainkan wayang tiga malam, lakon yang dimainkan masih kelanjutan dari
lakon yang sudah dimainkan pada malam sebelumnya, misalnya lakon
Partakrama, selanjutnya lakon Srikandi Maguru Manah, lalu Sembadra Larung,
begitu seterusnya. Jadi seperti cerita seri. Itulah yang dinamakan lakon jejer.
Lakon carang kadapur yaitu lakon jejer satu lakon, lalu disambung lakon
carangan yaitu lakon jejer yang pendek. Lalu disambung carangan tapi masih satu
cerita, bisa selesai dalam semalam. Artinya masih satu cerita, itu yang dinamakan
lakon carang kadapur. Lakon carangan, terpisah dengan lakon jejer serta tidak
ada lakon selanjutnya lagi jadi sudah habis. Dimainkan di rumah semalam sudah
bisa tamat.
Gamelan yang digunakan dalam pedalangan wayang kulit. Pada umumnya
gamelan untuk pedalangan itu hanya mengambil seperlunya untuk tetabuhan
wayang yaitu hanya mengambil sebagian klenengan lengkap sesuai wayangnya.
Kalau wayang purwa gamelannya laras slendro, kalau wayang Madya atau gedog,
gamelannya laras pelog dan barang, hanya mengambil sebagian klenengan
lengkap jadi tidak memakai bonangan serta tanpa gong besar. Gongnya hanya
cukup dengan gong suwukan saja, saron dua buah sebagai ganti bonang. Hanya
dibuat seperti itu sudah dipikirkan oleh para ahli karawitan yang sudah mumpuni
dalam pedalangan serta gending-gendingnya sekalian sudah disesuaikan dengan
bentuknya wayangnya. Jadi tidak hanya asal gending, asal gending baru kelihatan
bagus lalu dimainkan dalam pakeliran karena dianggap baik. Tidak tahunya malah
merusak pewayangan. Kalau gamelan tadi didengar dari kejauhan atau didengar
suaranya dalam radio dinamakan tetabuhan tarian (tari-tarian) atau tabuhan
wayang orang. Meskipun sama-sama tetabuhan wayang tapi ada bedanya, yaitu
tetabuhan wayang yang berhubungan dengan tarian karena wayang orang
dimainkan dengan tarian serta gendingnya tidak genap, hanya diambil yang cocok
dengan tariannya, gamelannya slendro dan pelog genap (komplit) bonangan, kalau
tari Langendriyan gamelannya hanya slendro, slendro lengkap bonangan
(komplit). Jadi kalau wayang kulit diberi cara begitu tidak pantas, namanya tidak
bisa menempatkan pada keluhuran kebudayaan kita.
C. Bahasa Pedalangan
Bahasa dalam pedalangan itu sudah diatur dan diracik oleh para ahli
bahasa yang sudah mumpuni dalam bahasa dan kasusastraan dan disesuaikan
dengan isi cerita pedalangan. Meskipun bahasa pedalangan itu campuran tapi
sudah diolah oleh para ahli bahasa supaya bahasa tadi bisa hidup dan enak
pengucapan kata-katanya. Kalau diterapkan dalam pedalangan bisa gampang
dimengerti oleh umum yang mendengarkan.
Para dalang yang belum mengerti pada bahasa dan kata-kata yang sudah
disusun dalam pedalangan, yang dinamakan tembung dadi, itu jangan sekali-kali
merubah, menambahi atau mengurangi, terlebih lagi sampai memberi arti kalau
belum bisa melebihi pengetahuan para pujangga yang disebut di atas tadi. Lebih
baik dibaca atau dihafalkan sampai hapal di luar kepala, diucapkan apa adanya
saja.
Kata-kata tadi kalau diotak-atik lalu diartikan dengan kata jarwa dosok
tidak bisa cocok, malah membingungkan, artinya berbeda dengan yang
diinginkan. Kebanyakan dalang sekarang senang mengubah dan mengganti,
mengartikan kata-kata pedalangan yang sudah dinamakan tembung dadi atau
hidup tersebut. Mengartikannya diputus-putus, maksudnya supaya benar
mengartikannya, tapi pada akhirnya malah membuat bingung. Lagi pula semua
nama negara, tempat dan pedesaan, pagunungan, pertapaan, kayangan, di jaman
purwa itu tidak bisa dibuat dengan bahasa inggil, nanti malah ucapannya berbeda.
Dalam pedalangan sudah ada artinya sendiri, yang sudah cocok dengan keinginan.
Misalnya di negara Astina, di Gajahoyo; mengapa dinamakan Astina, maksudnya
Dwipangga sirna ing Gajahoyo, yaitu kerajaan Dwipangga, begitu seterusnya.
Lagi pula kalau sedang membahasakan wayang supaya dengan bahasa Jawa yang
murni jangan sampai dicampuri bahasa Indonesia atau bahasa asing.
D. Bahasa Kedaton
Bahasa kadaton Krama Ngoko Bahasa Indonesia
hulun sampeyan Aku Aku
Henggeh Inggih Hiya Ya
Neda Sumangga Ayo, mara Ayo
Rereh Kendel Leren Istirahat
Roboyo Mengko Pantes, aku Pantas, aku
Kadimana Kados pundi Kapriye Bagaimana
Kapatedan Diberi Diwenehi Diberi
Memiliki Memiliki Duwe Punya
Wenten Wonten Ana Ada
Warahen Sampeyan
sanjangi
Tuturana Dinasehati
Wawi Suwawi Ayo Ayo
Punapi Punapa Apa Apa
Para Sampeyan Kowe Kamu, engkau
Pakenira Sampeyan Kowe Kamu, engkau
Manira Kula Aku dak Aku
Meninga Melihat Weruh Melihat
Meksih Taksih Isih Masih
Beneh Sanes Bedha seje Berbeda
Benten Sanes Beda Berbeda
Boja Boten Ora Tidak
Contohnya:
Prabu Druyudana berkata pada patih Sangkuni:
“Paman harya, boja jadi guguping ati pakenira, manira timbali maring
pasewakan, paman.” Sanghyang Guru ke Batara Narada: “Henggeh, marma
handika ulun piji, robojo kang mawa gara-gara palibaya kalimput.” Begitu
seterusnya.
Bahasa madya
1. Prehpun Priye Bagaimana
2. Wikana Embuh (kilap) Entah
3. Makoten mangkene Seperti ini
4. Melih Maneh Lagi
5. Mengke Mengko Nanti
6. Mawon Bae Saja
7. Ngrika Kana Di sana
8. Nika Ika Itu
9. Ture Jarene Katanya
10. Gale Nika Itu
11. Samang Kowe Kamu, engkau
12. Siyen Biyen Dulu
13. Dawek Ayo, enya Ayo
14. Empun Uwis Sudah
15. Engga Enya Ini
16. Onten Ana Ada
17. Ndika Kowe Kamu, engkau
18. Kriyin Disik Dulu
Contohnya:
Semar: “Ndika niku keprehpun ndara, wong butane galak ngoten kok diumbar
mawon, mboknggih empun enggal di uwisi.”
Kala Pragalba: “Neda adi sambung-sambung obor, pada budal.”
Sinauran: “Enggeh, ndaweg-ndaweg.”
Begitu seterusnya.
E. Bahasa Kasar
Basa kasar
1. Ambadog Mangan Makan
2. Anyaplok Mangan Makan
3. Anguntal Mangan Makan
4. Endas Sirah Kepala
5. Gundul Sirah Kepala
6. Andublong Ngising Buang air besar
7. Andodol Susuker
8. Kaplak Tuwa Tua
9. Gerang Tuwa Tua
10. Daplok Tuwa Tua
11. Congor Cangkem Mulut
12. Cocot cangkem Mulut
13. Cokor Tangan Tangan
14. Nracak Kurang ajar Kurang ajar
15. Edan Gingsir owah Gila
16. Pecus Bisa, saged Bisa
17. Jengos Bisa, saged Bisa
18. Anjibus Cumbana
19. Nyilit Cumbana
20. Gedohan Wateg
21. Anjejeli Aweh pangan Memberi makan
22. Inding Pipih, kempitan
23. Cendeng Sanak
24. Gobog Kuping Telinga
25. Ngecipris Calatu Cerewet
26. Ngokop Minum Minum
27. Waduk Perut Perut
28. Cungkur Irung Hidung
29. Micek Turu Tidur
30. Ngringkel Turu Tidur
31. Anjintel Turu Tidur
32. Mleding Turu Tidur
33. Modar Mati Mati
34. Anjelag Ngapusi Bohong
35. Pelus Planangan Alat vital laki-laki
36. Cemimik pawadonan Alat vital wanita
37. Andableg Ora ngrewes Kepala batu
38. Andableg Ora dirasakake Tidak dirasakan
Contohnya
Orang marah: “E, bocah dituturi wong tuwa ora ngrewes, mung ndableg
bae.”
Orang bertengkar: “O, wong nracak kurang ajar nyandak gundul tanpa
amit, wong edan ane.” Begitu seterusnya. Yang lainnya cukup dengan bahasa
krama inggil dan bahasa lumrah tapi jangan sampai tercampur dengan bahasa
Indonesia atau bahasa asing. Pujian untuk ratu atau negara banyak jenisnya. Dari
yang lengkap sampai yang hanya untuk kesenangan, sering digunakan dalam
cerita pedalangan. Contohnya seperti ini: Pujian untuk Negara.
Swuh rep data tita ana: Anenggih wau kocapa, nagari pundi ingkang
kaeka adi dasa purwa. Eka: sawiji, adi: linuwih, dasa: sapuluh, purwa: kawitan.
Sanajan kathah titahing Dewa kang kasangga pratiwi, kaungkulan ing akasa,
kapit ing samodra, kathah kang anggana raras, boten wonten kados nagari ing
Mandraka. Mila kinarya bebuka, kocap ngari satus tan angsal kekalih, sewu tan
antuk sadasa. Dasar nagari panjang apunjung, pasir wukir, loh jinawi, gemah
ripah, karta raharja, panjang dwa pocapane, punjung luhur kawibawane, Pasir
samodra, awukir gunung dasar nagari angungkuraken pagunungan,
angeringaken pasabinan, anengenaken bengawan, angajengaken bandaran
ageng, loh: tulus kang sarwa tinandur, ajinawi: murah ingkang tinuku, gemah:
katandha ingkang laku dagang rinten dalu lumampah tan ana pedote, datan
wonten sangsayanireng margi, aripah: katandha ingkang tepung cukit adu taritis
sking gemah harjaning nagari. Karta: Katandha kawula ing padhusunan ingkang
lampah tetanen, angingu kebo, sapi, bebek, ayam tana cinancangan yen rina sami
aglar aneng pangonan, wancining dalu wngsul marang kandang asowangsowang,
sangking kalising durjana juti. Raharja: dening tebih parang muka,
tuwin abdi Mantri Bupati tan wonten lampah cecengilan atut rukun anggonira
ngangkat ngangkat karyaning ratu, mila nagari ing Mandraka keringan ing
ngatmaja praja, dasar negara Mandraka gede obore, padang jagade, duwur
kukuse adoh kuncnama, boten ing tanah Jawi kemawon, sameskipun tanah sbrang
kathah ingkang asuwita.
Contoh pujian untuk ratu: Wenang dipun ucapaken jejuluking Narendra
ing Mandraka. Prabu Narasoma: ratu sareh marang dasih Salya: ratu wiyar
cecawanganing panggalih, Mandradipa: Ratu linuwih, Mandrakeswara,
langkung luhur, Somadenta: tutut ing gading. Pranyata Sri Bupati ing Mandraka
ambeg pinandita. Mila katah praja nungkul arais tanpa pinukul ing yuda,
sangking kungkulan pambekaning ratu. Dene Sri Bupati ing Mandraka agung
danane, paring sandang wong kawudan, suka teken wong kalunyon, asung
kudung ing kapanasen, paring pangan ing janma kaluwen, karya sukaning
prihatin. Tuhu tan kena winanti danane Sinuhun ing Mandraka, yen ta
ginunggunga wiyaring jajahan luhuring keprabon tuwin pambekaning ratu,
sadalu tan wonten pedote. Pinunggel ingkang murweng kawi Sinigeg. Yang
disebut di atas tadi dinamakan bahasa dan tembung jadi, yaitu sudah diatur dengan
baik kata-katanya sehingga enak didengarkan.
F. Kitab-Kitab Pewayangan
Serat Mahabarata itu berisi sejarah yang berisi 18 cerita lakon, yaitu yang
dinamakan Parwa. Di tanah Hindu dan di tanah Jawa, untuk kasusastran Jawa
kuna, sampai sekarang bisa menemukan sembilan parwa: 1. Adiparwa, 2.
Soboparwa, 3. Wirataparwa, 4. Udyagaparwa, 5. Bhismoparwa. sedangkan yang
empat atau empat parwa itu adalah Parwa-parwa kecil yang terakhir.
Parwa-parwa Jawa kuna ditulis dengan cara disalin untuk naskah atau
karangan pendek, sedangkan bahasa kawinya disalin dengan teliti, tapi parwaparwa
tersebut bisa diringkas isinya, kebanyakan untuk mengisi dalam
pedalangan, seperti cerita Mahabarata ada dalam cerita pedalangan dengan cerita
lakon.
Parwa-parwa Jawa kuna terkenal ketika abad yang ke 11. semua parwaparwa
tadi diambil dari naskah Mahabarata asli, masih ditulis dengan bahasa
Kawi yang ditulis sabelum tahun 1000 Masehi, sehingga tidak diketahui siapa
pengarang parwa-parwa tersebut. Literatur yang berasal dari Hindia berisi cerita
Mahabarata yang serupa, isinya empat parwa, yaitu:
1. Adiparwa
2. Soboparwa
3. Wirataparwa
4. Bhismoparwa
Selain keempat parwa besar tersebut, juga ada empat parwa kecil yang
terakhir. Kakawin yang perlu diketahui ada dua, yaitu: Cerita Harjuna Wiwaha,
karangan Empu Kanwa tahun 1030. Cerita Baratayuda, karangan dua bersaudara,
yaitu Empu Sedah dengan Empu Panuluh, ketika tahun 1157, isi cerita buku itu
dengan dilagukan tembang macapat sesuai cerita lakon. Isi cerita dengan tembang
macapat tersebut memuji ratu-ratu yaitu Prabu Jayabaya dan Erlangga, yang
ketika itu berkeraton di tanah Jawa Timur.
Empu Sedah dan Empu Panuluh itu pujangga kasusastran Jawa kuna.
Empu Panuluh itu yang menyelesaikan tulisan Baratayuda yang dimulai oleh
Empu Sedah. Kakawin itu menggambarkan perang saudara antara dua negara,
yaitu Kediri dan Jenggala. Juga menulis Gatutkaca Sraya dan Hariwangsa, pada
jaman Prabu Jayabaya. Dalam serat kawi Smaradahana ditulis pada abad yang ke
12, serat itu menceritakan lakon Prabu Kameswara. Sutasoma adalah buku tulisan
Budha yang sudah ditemukan dalam kasusastran Jawa, yaitu serat yang berisi
cerita Gatutkaca Sraya, Kresnayana dan Hariwangsa.
Serat cerita Ramayana itu karangan Empu Yogiswara, kemungkinan
berasal dari Jawa Tengah ketika tahun 925, isi cerita Harjunawijaya dan
Sumanasantaka. Cerita Ramayana karangan Jayadipuran tidak mengambil dari
Ramayana Kawi karangan pujangga Walmiki, juga tidak mengambil dari Harjuna-
Sasrabahu. Itulah tulisan baku serat kuna yang sering diambil untuk cerita lakon
wayang purwa ada dalam cerita pedalangan, yang digunakan sebagai dasar cerita
lakon wayang.
G. Lakon-Lakon Pasemon
1. Lakon Swargabandang. Dibuat oleh Panembahan Senapati Mataram,
sebagai peringatan ketika Mangir runtuh (Babad Mangir)
2. Lakon Rajamala, dibuat oleh Panembahan Senapati Mataram, sebagai
peringatan matinya Harja Panangsang, di Jipangpanolan.
3. Lakon Mustakaweni sampai Petruk Dadi Ratu, sebagai peringatan PBI
sinuhun Pakubuwana yang ke satu.
4. Lakon Gilingwesi, Werkudara Dadi Ratu, dibuat P.B. yang ke III, sebagai
peringatan runtuhnya Kraton Kartasura.
5. Lakon Wijanarka, dibuat P.B. yang ke III sebagai peringatan P.B. yang ke
II kembali dari Panaraga setelah diambil menantu oleh Anom Besari.
6. Lakon Suryaputra Maling, dibuat oleh P.B. yang ke III sebagai peringatan
pencuriannya pangeran Singasari.
7. Lakon Kresna Kembang, dibuat P.B. yang ke IV pasemon ratu Pambayun
bersama dengan R.M.H Natawijaya.
Cerita lakon-lakon wayang tersebut di atas, itulah yang dinamakan lakon
pasemon, peringatan keadaan kehidupan, digambarkan dalam pawayangan untuk
dimainkan dalam pakeliran. Jadi asal ceritanya memang dari kenyataan kehidupan
manusia yang sebenarnya, jadi bukan dongeng yang digambarkan dalam
pakeliran. Makanya lalu dinamakan cerita lakon pasemon. Cerita lakon wayang
purwa, kebanyakan adalah karya para empu ahli kasusastran jaman kuna, yaitu
ketika jaman Prabu Jayabaya di Kedhiri.
1. Lakon Wahanapurwa, yaitu pertemuan Dewi Gandawati atau Dewi Lara
Amis, karangan Empu Tapawangkeng di Mamenang.
2. Lakon Suktinawyasa, bertahtanya Prabu Kresnadipayana sampai menjadi
begawan di Saptarga dengan julukan sang Maharsi Begawan Abyasa. Cerita
karangan Empu Wijayaka di Mamenang.
3. Lakon Gorowongso, cerita karangan Empu Barandang.
4. Lakon Kumbayana, cerita karangan Empu Braradya.
5. Lakon Bimabungkus, cerita karangan Empu Ragarunti
6. Lakon Muksane Prabu Pandu, cerita karangan Empu Mayangga
7. Lakon Drestanagara (Drestarasta) menjadi ratu sampai turun tahta, cerita
karangan Empu Widyatmaka.
8. Lakon Kurumaka, alap-alapan Dursilawati, cerita karangan Empu Mujwa.
9. Lakon Bale Sagala-gala cerita karangan Empu Salukat Karmajaya.
10. Lakon Hambaralaya sampai Jaladara rabi Werdiningsih, cerita karangan
Empu Purusaka.
11. Lakon Krida Kresna, cerita karangan Empu Jaruwaya.
12. Lakon Alap-alapan Surtikanthi, cerita karangan Empu Mudra.
13. Lakon Dewa Budha, Sanghyang Guru jadi ratu di Medangkamulan awal,
sampai berpindah kota ke Wukir Mahendra (Gunung Lawu) dan membuat
kraton Kaswargan, cerita karangan Empu Padma di Mamenang.
Lakon-lakon tersebut kebanyakan karangan para Empu ahli kasusastran di
Mamenang ketika jaman Prabu Jayabaya di Kediri. Ceritanya bagus sampai
masuk ke dalam hati, tidak berbeda jauh dengan lakon Dewa Ruci dan Harjuna
Wiwaha. Serat Jitabsara isinya menceritakan awal mula terjadinya dunia dan
seisinya, sampai kesempurnaan hidup lalu disambung dengan serat Paramayoga
yang sudah disiapkan, diurutkan oleh Raden Ngabehi Ranggawarsita, pujangga
ahli kasusastran di Surakarta.
Serat Paramayoga, isinya kisah Sanghyang Nurcahya sampai kisah para
dewa-dewa sejak di tanah Hindu sampai mengungsi ke pulau Jawa, lamanya
sampai 25 tahun, lalu pada kembali lagi ke tanah Hindia. Ketika berada di pulau
Jawa membuat kerajaan, makanya sampai sekarang orang-orang di pulau Jawa
masih banyak menceritakan ceritanya, dan masih percaya pada dewa-dewa
tersebut sampai bisa memindah cerita-cerita tadi sebagai isi dalam lakon wayang
purwa sampai jaman sekarang, sekaligus sebagai pengingat pada para leluhur
jaman dahulu.
Serat Pustaka Raja purwa, sebagai kelanjutan dari Serat Paramayoga
tersebut di atas. Isi Serat Pustaka Raja Purwa tersebut semua adalah para empuempu
ahli kasusastran ketika jaman Prabu Jayabaya menjadi raja di negara Kediri
ketika tahun surya 853, tahun candra 879. Serat Pustaka Raja bagian ke 4,
bernama serat Gorowongso karangan empu Barandang, pada tahun surya 853,
tahun candra 879. Serat Pustaka Raja bagian ke 6 bernama serat Wandalaksana,
karangan empu Ragarunting di Mamenang atas perintah Sang Prabu Jayabaya
pada tahun surya 853, tahun candra 879. Serat Pustaka Raja bab yang ke 6, bagian
ke 4, bernama serat Hariwanda karangan empu Panuluh di Mamenang pada tahun
surya 853, tahun candra 879. Serat Pustaka Raja bab yang ke 6 bagian ke 5
bernama serat Parapatra karangan empu Yogiswara di Mamenang pada tahun
surya 853, tahun candra 879. Serat Pustaka Raja bab yang ke 7 bernama serat
Suktinawyasa karangan empu Wijayaka ketika tahun 853, tahun candra 879. Serat
Pustaka Raja bab yang ke 7 adalah penjelasan serat Mahapatra, dibagi dalam 8
lakon, bagian ke satu dinamakan serat Wahanyapurwa, karangan empu
Tapawangkeng di Mamenang, ketika tahun surya 853, tahun candra 879. Ada lagi
serat Mahadarma, juga serat karangan para empu kasusastran Jawa ketika jaman
Prabu Jayabaya di Kediri, isi serat-serat tersebut menceritakan kisah para dewa
ketika ngejawantah menjadi ratu di bumi sampai bisa menurunkan manusia yang
menjadi ratu sampai di jaman sekarang.
Isi serat Pustaka Raja itu hanya seperti cerita dongeng ketika jaman dulu,
yang berisi wejangan-wejangan yang bisa dijadikan contoh tentang baik dan
buruk kehidupan manusia di dunia ini. Jadi kalau hanya dilihat isi dongengnya
saja itu tidak bisa dijadikan cerita dalam pakeliran wayang purwa. Raja purwa
sudah diurutkan oleh seorang Pujangga ahli kasusastran di negara Surakarta
Hadiningrat, diurutkan mulai dari jilid 1 sampai jilid 15. sedangkan yang sudah
pernah dicetak menjadi buku baru sampai jilid 10 sedangkan sisanya kebanyakan
masih dalam bentuk tulisan tangan, bisa dinamakan carikan.
DASAR-DASAR ETIKA PEDHALANGAN
;A. Keindahan Adiluhun了g
Cara dalang dalam memainkan wayang sabisa-bisanya ingat pada
keindahan yang adi luhung, hati-hati memegang wayang dan bisa menghargai seni
wayang, jangan terburu-buru nanti malah bisa dianggap meremehkan seni
kebudayaan kita sudah dianggap adi luhung. Dalang harus bisa menghargai
wayang karena sandang pangan dalang itu adalah karena bermain wayang dengan
tetabuhan semalam suntuk. Jadi kalau memperlakukan wayang-wayang dengan
seenaknya sendiri itu kurang baik, kadang-kadang ada dalang yang menmainkan
wayang dengan dilempar-lemparkan ke udara, ada yang sampai dijungkirbalikkan
supaya dianggap sabetan gaya baru, sehingga banyak anak kecil yang melihat
bersorka-sorak dan merasa baik permainannya. Yang seperti itu masih termasuk
dalang bocah, masih suka disoraki anak kecil, masih belum bisa menghargai
budaya yang adi luhung. Kalau caranya seperti tersebut, dalam semalam
memainkan wayang, pasti ada satu atau dua wayang yang gapitnya patah karena
gapit dari tanduk itu rapuh, kalau wayang yang gapitnya dari bilah bambu itu kuat.
Kebanyakan wayang dengan gapit seperti itu hanya wayang di pedesaan dan
pesisir, yang biasanya dinamakan wayang barangan, hanya untuk sekedar untuk
mencari nafkah. Jadi tidak memikirkan tentang seni keindahan, hanya untuk
mencukupi kebutuhan.
Kalau yang dimainakan adalah wayang yang bagus dan rumit ukirannya
dengan dipoles prada emas, dengan gapit dari tanduk putih dan pilihan, yang
punya teliti pada garapan, wayang yang nantinya akan banyak dimiliki oleh
priyayi yang kaya dan senang pada wayang maka siallah mereka jika dalang
dalang yang memainkan hanya seenaknya saja, memakai cara memainkan wayang
di pedesaan tersebut, tidak bisa membedakan baik buruk barang, semua dianggap
sama.
Begitulah model dalang gaya baru sekarang ini, banyak yang merusakkan
wayang dan belum bisa menghargai seni karya juru tatah wayang dan juru
panyungging. Makanya jadi dalang itu tidak gampang, harus cinta pada wayang
siapa saja dan bisa menghargai, sopan santun dalam memainkan wayang, jangan
meremehkan wayang. Jika terjebak memainkan wayang di tempat yang biasanya
hanya seadanya, jangan merasa kecewa hatinya, harus bisa memainkan sama
dengan wayangnya orang kaya yang serba baik. Jadi jika ada dalang memainkan
wayang dengan dijungkirbalikkan atau dilempar-lemparkan supaya bisa kelihatan
berpindah tempat atau kelihatan melompat, itu bukan cara dalang memainkan
wayang.
Dalang seperti itu jika tidak punya wayang sendiri, biasanya kalau mencari
sewaan wayang jadi sulit, para priyayi yang punya wayang tidak akan
menyewakannya karena pasti ada wayang yang rusak, yang pasti gapitnya akan
putus pas di pinggang wayang. Makanya banyak yang tidak mau menyewakan
wayang pada dalang yang seperti itu.
Tatacara dalang mengambil dan menancapkan wayang harus dengan
tangan kanan, tangan kiri hanya diam saja. Jika tangan kiri ikut menancapkan
dinamakan diksura dan lagi jika tiba wayang yang besar biasanya kurang dalam
menancapkannya, wayangnya kadang masih bergoyang akan rubuh karena kurang
dalam menancapkannya. Jika sampai terlalu dalam juga kurang baik, susah
mencabutnya. Maka kalau tangan kanan harus bisa mengira-ira dangkal atau
dalamnya dalam menancapkan wayang. Kalau mengeluarkan wayang dalam
pakeliran harus bisa mengira-ira lebar sempitnya paseban, jangan sampai
kelihatan memenuhi tempat dan jelas penataannya, muka wayang supaya bisa
kelihatan satu-satu, jadi bisa menyebutkan nama wayang satu persatu.
Menata wayang dalam paseban harus ingat pada besar kecilnya wayang.
Misalnya menata wayang Kraton Ngalengka yang besar-besar, cukup 6 buah saja.
Penataannya yang baik, kalau butuh agak banyak boleh sampai 8 buah, misalnya
wayang yang besar dikurangi Kumbakarna. Jika sampai pada wayang yang
ukurannya sedang misalnya sabrangan Boma beserta pasukan manusia, itu cukup
8 buah. Jika wayangnya kecil bisa dikira-kira sendiri bagaimana agar baik dilihat.
Selama dalang memainkan wayang itu sabisa mungkin sambil menata dan
mempersiapkan wayang yang akan keluar selanjutnya. Caranya sambil
menceritakan suatu adegan wayang apa saja, bisa sambil mempersiapkan wayang
yang akan dibutuhkan, jangan hanya mengandalkan pada panyumping (pembantu)
saja.
Dalang juga harus tahu tentang keapesan wayang. Kalau menumpuk
wayang jangan melintang nanti bisa mematahkan gapit, meletakkan wayang diatur
agar rata kelihatan tergelar rapi. Kalau sampai wayang tadi asal meletakkannya
akan bingung mengambilnya. Mengambil wayang jangan sampai diseret nanti
tangannya tersangkut dan kadang-kadang membuat putusnya sambungan tangan
atau lepas dari sambungan. Kadang kala ada yang sampai memutuskan pegangan
tanganan, lepas talinya dari telapak tangan wayang. Cara mengambilnya harus
dibuka satu-satu. Kalau sudah ketemu wayang yang dibutuhkan lalu dipegang
gapitnya, ditarik ke bawah sambil maju dan diringkas tangannya dengan
memperhatikan wajah wayang jangan sampai ada yang tertekuk hidungnya nanti
bisa membuat cacat wayang.
B. Gapit Wayang
Wayang yang wajahnya dicat hitam kalau terlipat tidak terlalu kelihatan
cacatnya, tapi kalau yang wajahnya merah muda (puru) atau putih, brom (prada)
dan wayang yang sejenisnya biasanya kelihatan jelas bergaris atau rusak catnya.
Itulah sebabnya mengapa memainkan wayang jangan sampai gapitnya
melengkung, begitu juga menancapkan jangan sampai gapit tadi terlipat.
Pegangan dari tanduk itu mudah patah karena rapuh, berbeda dengan gapit bambu
atau penjalinPatahnya gapit itu biasanya di bagian pinggang wayang karena disitu
adalah tempat gubahan gapit.
Jika menancapkan wayang jangan sampai terlalu dekat dengan kelir, nanti
kalau dilihat dari belakang kelir akan kelihatan seperti patung (arca) diam tidak
bergerak, hitam dan tidak hidup. Wayang ditancapkan agak miring sedikit, yang
menempel di kelir hanya wajah wayang sampai telapak kaki yang depan. Jadi
kalau tersorot sinar lampu blencong, bayangannya bisa kelihatan bergerak, kalau
dipandang dari belakang kelir kelihatan seperti punya nyawa. Kalau menancapkan
wayang terlalu tinggi dinamakan wayangnya dinamakan mabur karena tidak
menyentuh tanah. Kalau terlalu dalam menancapkannya dinamakan kungkum,
kalau menancapkan wayang yang di depan jangan sampai terlalu menunduk, nanti
dinamakan nlosor, bagaimana sebaiknya saja. Menancapkan wayang yang di
depan, kepuh dodot yang pas pinggang diatur supaya jatuh di atas palemahan agak
ke atas sedikit. Jadi seperti orang yang sedang duduk bersila duduk menghadap
ratunya, atau pada wayang kang ada di depannya.
Kalau menyabet wayang jangan sampai bersangkutan, seperlunya saja
jangan sampai diulang-ulang malah jadi ruwet. Kalau sampai ruwet yang melihat
dari belakang kelir akan merasa pusing kepala karena melihat kelebat sana kelebat
sini tanpa arti. Memang tidak gampang memainkan wayang dalam pakeliran tadi.
Makanya harus lincah memegang wayang, jangan sampai terlepas pegangannya.
Begitulah cara merawat wayang yang dinamakan anggulawentah wayang, jadi
harus senang dan cinta pada wayang apa saja. Memainkannya harus teliti hati-hati,
dan bagi orang asing agar bisa menghargai pada kagunan yang adi luhung tadi.
Dalam memainkan wayang, kalau menceritakan lakon wayang jangan
sampai keluar dari kelir, harus apa adanya watak wayang yang ada dalam lakon
sesuai lakon yang dimainkan yaitu cerita wayang purwa ketika jaman dahulu.
Jangan sampai dibelokkan dengan lelakon jaman sekarang, nanti akan membuat
kacau anggapan para tamu dan para penonton, sehingga dinamakan tanpa waton.
Jangan suka membicarakan wayang sampai memakai nama para tamu dan
penonton. Ya kalau hatinya berkenan, kalau tidak nanti malah membuat salah
paham tidak baik jadinya. Jangan suka membicarakan keadaan keadaan jaman
sekarang. Benar atau salah itu bukan kewajiban dalang memainkan wayang.
Jangan sampai mau menerima kalau ada priyayi yang titip rembug apa saja supaya
dimasukkan dalam pembicaraan wayang yang dirasa bisa pas. Itu tidak baik, nanti
dinamakan dalang corong (trompet) jadi tukang propaganda dan bisa jadi cacat
membuat isi cerita pedalangan tidak cocok dengan cerita lakon ketika jaman
purwa. Intinya adalah dalang memainkan wayang semalam itu yang dibicarakan
hanya cerita lakon wayang ketika jaman purwa saja dan sesuai wayangnya. Kalau
wayangnya madya, ya jamannya jaman madya, kalau wayang gedog ya jaman
Jenggala dan seterusnya. Karena umumnya kebanyakan digunakan untuk
memainkan wayang itu adalah wayang purwa, jadi jangan sampai melenceng dari
bentuk barang yang sudah ada. lagi pula kalau bicara jangan sampai rusuh atau
saru, kalau sampai terdengar para putra-putri yang melihat di belakang kelir
kurang baik.
Kalau memukul kotak jangan terlalu sering, kalau membuat jarak
pemukulan yang jelas mengikuti ucapan wayang atau kalau wayang yang lain
perlu menyahut untuk menjawab pertanyaan atau ucapannya tadi jadi ada sela
tidak membuat bingung teman-teman niyaga yang menabuh gamelan. Pernah ada
kejadian, niyaga ingin meminta singgetan patet. Sudah mengambil rebab dan
digesek ternyata wayang masih berbicara dan diselingi suara ketukan kotak. Yang
mendengarkan jadi bingung, tidak mengerti ucapan wayang malah bising dengan
suara kotak dipukul tanpa arti. Intinya harus bisa menerapkan, memukul kotak
yang tepat jangan sampai mengganggu ucapan wayang dan keinginan niyaga.
Kalau cerita harus yang jelas jadi bisa dirasakan, jangan hanya asal bicara
seperti menghafal dan jangan sampai diulang-ulang, malah ada yang salah ucap.
Begitulah, apa yan dirasa baik malah sebaliknya, tidak ada orang yang
memperhatikan, hanya dianggap seperti burung mengoceh saja. Makanya harus
hati-hati, kalau cerita yang jelas dan turut jadi enak didengarkan dan tidak perlu
terburu-buru. Kalau tidak mengerti bahasa dan kata jangan berani memberi arti,
nanit keliru maknanya. Kalau ada kata yang sudah jadi jangan berani mengubah
atau ngotak atik, nanti malah berbeda maknanya. Lebih baik dibaca apa bunyinya
saja dan jangan sampai berganti kalimat. Makanya dalang harus hawicitra, Mardi
basa, Mardi kawi itulah modal untuk jadi dalang.
C. Gending untuk Pewayangan
Dalam memainkan wayang jangan sampai menoleh kesana kemari kalau
tidak ada perlu yang penting dan jangan sampai sok pintar. Lebih tumungkul
(menunduk). Yang dimaksud tumungkul di sini bukan menundukkan muka
melihat ke bawah, tapi menundukkan hati, menjadi satu dengan permainan
wayang. Satu lagi, jangan sampai bersandar pada kotak, duduk yang tegak jangan
membungkuk, kalau bersuara nanti tidak bisa kuat napasnya. Kalau sedang
ngepyak (memukul kepyak) duduknya agak miring ke kiri sedikit. Ada dalang
yang memukul kepyak dengan tungkai kaki, maksudnya supaya bisa terasa
mantap keras suaranya sampai kotaknya bergeser dari tempatnya. Yang seperti itu
salah karena kelihatan kasar, cara seperti itu dinamakan kepyakan cara pedesaan,
hanya asal suaranya keras saja sampai mengalahkan gamelan, itu kurang baik.
Harus disesuaikan dengan laras gamelan, jadi bisa enak didengarkan. Intinya
harus bisa menerapkan pada dirinya sendiri jangan sampai kelihatan kurang baik,
nanti dinamakan diksura, tidak mengerti udanagara. Dalang dalam memainkan
wayang pasti banyak tamu-tamu yang hadir untuk melihat dan memperhatikan
cerita serta piwulang dalang dalam memainkan wayang semalam suntuk itu. Tamu
kebanyakan itu ada bermacam-macam, ada orang asing yang punya pengetahuan
luas melebihi si dalang, malah ada dalang yang datang untuk melihat cara
memainkan wayang. Makanya tidak gampang jadi dalang.
Kalau sudah laris dan kondang jangan sombong meremehkan temannya
mencari makan, lalu kurang menghormati niyaga. Apa ada dalang memainkan
wayang tanpa tabuhan, jadinya tidak bagus. Tersebut semua ajaran yang menjadi
wewaler dalang. Kalau memainkan gending untuk pewayangan itu harus ingat
pada bentuk wayang, wayang dugangan, alusan, bapangan, atau wayang dagelan,
juga sedang memainkan adegan apa dan dimana tempatnya. Misalnya kalau di
Dwarawati gendingnya karawitan, kalau di Astina Kabor. Itu sudah ada
ketentuannya sendiri-sendiri. Jengkar dari di pasewaan atau cukup ayak-ayakan
saja, kalau sudah sampai depan gapura terus dilagukan pangjangmas. Itu sudah
menjadi ketentuan, jangan sampai gendingnya diganti gleyong karena gending
Gleyong itu gending yang digunakan dalam bubaran resepsi, jadi bukan gending
wayangan. Kalau kadatonan gendingnya Titipati atau Damarkeli itu sudah baik,
jangan Semaradana atau Pangkur kebar, itu gending untuk tari kiprahan yaitu tari
Gambyong.
Jadi tidak tepat kalau diterapkan dalam pakeliran wayang serta jangan
memainkan gending Bedayan dalam pakeliran, itu tidak selaras dengan
pewayangan, hanya untuk digunakan ketika Limbuk dan Cangik menari saja. Lagi
pula kalau masih sore memainkan gending gobyog itu kurang baik. Itulah yang
dinamakan tidak bisa menerapkan karawitan untuk wayang purwa. Gendinggending
untuk pewayangan itu sudah ada sendiri, sudah diciptakan oleh empuempu
yang ahli gending pewayangan. Jadi kita itu hanya cukup melestarikan saja
jangan sampai diganti dengan gending baru yang sedang in sekarang ini. Itu tidak
cocok dalam pewayangan karena ini wayangan, bukan klenengan mana suka.
Jangan sampai dicampur aduk, nanti membuat kacau, sudha ada ketentuannya
sendiri-sendiri. Kalau sampai berlarut-larut namanya merusak seni kebudayaan
kita.
D. Dalang Sejati, Purba Wasesa
Macam-macam dalang sudah ada namanya sendiri-sendiri, yaitu lima
macam:
1. Dalang Sejati.
Kalau memainkan wayang, semua lakon pewayangan berisi pendidikan yang
baik untuk contoh para penonton. Yang diceritakan dalam lakon wayang
berisi ilmu kebatinan, wejangan sangkan pnama dumadi sampai kesejatian.
Jadi memberi terang pada para penonton yang masih hatinya masih merasa
gelap, memberi wejangan tentang hidup manusia agar bisa menuju
kasempurnan. Jadi lahir dan batin itu bisa seia sekata, luar dan dalam menuju
pada tindakan yang baik, jangan sampai manusia itu melenceng menuruti
keinginan sendiri. Itulh yang dinamakan Dalang sejati.
2. Dalang Purba
Dalang ini kalau memainkan wayang dengan cerita yang isinya bermacammacam,
yaitu cerita lakon wayang yang bisa digunakan untuk bekal hidup
manusia sehari-hari. Lahir dan batin mneuju kesempurnaan. Makanya cara
memberi petunjuk hanya dengan kata yang halus-halus, sebagai wejangan
pada para penonton sampai masuk ke dalam hati, meskipun sudah selesai
wayangnya tapi merasa masih menerima wejangan Ki Dalang tersebut. Itulah
yang dinamakan dalang purba, artinya dalang yang sudah bisa merasakan
rasa kasar halusnya manusia.
3. Dalang Wasesa
Dalang wasesa kalau memainkan wayang sudah mahir, cara menceritakan
wayang sampai bisa seperti hidup karena pandainya membuat kata-kata,
sampai bisa membuat para penonton ikut merasa prihatin kalau wayang
sedang prihatin, seperti benar-benar ikut susah. Begitu seterusnya, karena
kepandaian memainkan dan melagukan segala tingkah laku wayang, seperti
itulah yang dinamakan dalang wasesa, artinya sudah bisa menguasai
pakeliran.
4. Dalang Guna
Kepandaiannya menjalankan pakeliran hanya menurut pada cerita yang pasti
disenangi oleh penonton saja. Ceritanya kosong, tidak ada wejangan hanya
sekedar ramai saja dan kelihatan pandai memainkan wayang, jadi bisanya
baru memainkan wayang sambil diiringi tetabuhan semalam suntuk, sekalian
menunggu rumah. Caranya hanya seperti orang bermain wayang lugu,
ceritanya tanpa isi, kalau memilih lakon pasti mencari lakon kebanyakan
perangnya, sedikit gending dan ceritanya. Memilih lakon kebanyakan
perangnya jadi gamelannya kebanyakan hanya gending sampak srepegan dan
ayak-ayakan. Semalam hanya isi tiga gending, bisa dinamakan beber bango
mati. Makanya memilih kebanyakan keluar wayang, dalam semalam jangan
sampai kehabisan lakon.
5. Dalang Wikalpa
Cara memainkan wayang hanya menurut isi pakem, semua pengetahuan bab
pedalangan. Ceritanya hanya pas apa adanya saja, menurut ajaran ketika
belajar jadi dalang ketika sekolah dalam sekolah pedalangan. Jadi hanya
seperti meniru saja, itu yang dinamakan latihan mendalang, menirukan cara
dalang memainkan wayang semalam. Itu yang dinamakan dalang wikalpa.
E. Pakem Blangkon
Yang dinamakan pakem blangkon itu seperti ini.
Pakem artinya ketentuan, yaitu wewaton; Blangkon artinya tetap, tidak
berubah. Jadi pakem blangkon itu adalah ketentuan pedalangan yang sudah
ditetapkan serta diatur menurut adat tatacara di kerajaan jawa, sebagai pedoman
para dalang jika memainkan wayang.
Jadi cara menata pakeliran menurut pada adat tatacara kraton Jawa, dan
disesuaikan dengan caranya sendiri-sendiri. Sebagai contoh, misalnya kalau
menurut pedalangan cara Surakarta, setiap lakon pertama Kraton Jawa, dimana
negaranya dan siapa ratunya, ucapan cerita janturan pasti dengan cara praja
Surakarta yaitu keadaan negara dan kemakmuran negara disampaikan dalam
cerita. negara panjang-punjung pasir wukir loh jinawi: begitu seterusnya, dan
pasti disesuaikan dengan upakarti Surakarta, lalu gapuran, sang nata keluar dari
istana dan berhenti di Srimanganti. Terus kadatonan, sang nata duduh bersama
prameswari. Terus disambung di Paseban jaba, di Pagelaran, bubaran,
membubarkan pasukan, begitu seterusnya.
Kalau cara Yogyakarta hampir sama, hanya bedanya kalau sampai laras
sanga pasti diselingi gara-gara sebagai banyolan, mengeluarkan dagelan. Jadi
yang disebut di atas tadi yang dinamakan pakem blangkon, aturan dalang kalau
memainkan wayang. Makanya kalau ada dalang memainkan wayang sampai
keluar dari pakem, artinya meninggalkan pakem, meskipun laris dan banyak orang
yang suka, tetap saja kurang baik karena tidak menurut pakem dan meninggalkan
waton pedalangan.
Pedalangan itu sudah dibagi, ada wewaton sendiri-sendiri. Kalau dalang
wayang purwa yang dimainkan wayang purwa, wayangnya juga purwa,
gamelannya slendro, gending suluk patet slendro, begitu seterusnya.
PENGETAHUAN TENTANG RICIKAN WAYANG
1. Gunungan, kayon, menggambarkan nyala api
2. Kayon gurda pepohonan gede
3. Prampogan pasukan manusia
4. Prampogan pasukan buta (yaksa)
5. Kereta, jumlah 2 buah
6. Kuda hitam besar1, kuda putih ukuran sedang 1, kuda kecil 1, kuda
geculan kepala sopakan 1, jumlahnya jadi 4 buah.
7. Gajah putih dan gajah klawu (abu-abu) jumlahnya 2 buah
8. Naga Raja makutan Ywang Antaboga
9. Naga Geni jamang pogogan gruda kecil (perempuan)
10. Sawer Ula besar
11. Macan Gembong dan macan putih 2 buah
12. Burung Garuda, Wilmuka buta dengan sayap Wilmana burung besar
tunggangan Boma 3 buah.
13. Banteng
14. Kerbau 2 buah
15. Kijang 2 buah
16. Rusa 2 buah
17. Babi
18. Burung Dewata
19. Burung kecil jumlah 4 buah
20. Minarda ikan besar
21. Kepiting besar 2 buah
22. Tikus 2 buah
23. Kodok 2 buah
24. Kelelawar 2 buah
25. Kendela 2 buah
26. Kalajengking 2 buah
27. Ayam Jago 2 buah
28. Brayut laki-laki dan wanita ditemani anak kecil jadi jumlahnya 3 buah
29. Nyamuk 2 buah
30. Serat kalimasada
31. Surat iber-iber
32. Ergelek (kenti) 2 buah
33. Kendi pratala 2 buah
34. Gelas minuman 4 buah
35. Rangka keris
36. Sumbul
Buah-buahan yang dijadikan bentuk wayang untuk pedalangan
1. Nanas
2. Ketimun
3. Semangka
4. Jeruk gulung
5. Manggis
6. Jeruk kecil
7. Kelapa
8. Jambu seikat
9. Blimbing
B. Macam-macam senjata
1. Keris lurus kecil bagus bentuknya, ada 2 buah
2. Keris besar kecil, ada 4 buah
3. Keris luk kecil bagus bentuknya, ada 2 buah
4. Keris luk besar kecil bentuknya, ada 4 buah
5. Panah kecil untuk perempuan, ada 2 buah
6. Panah kecil untuk laki-laki, ada 2 buah
7. Panah kepala burung, Sarotama, ada 1 buah
8. Panah Nagapasa ada 1 buah
9. Panah rantai ada 1 buah
10. Nanggala, seperti cis kecil pendek
11. Alugara (alu besar)
12. Denda
13. Cakra dengan deder (cakra baswara)
14. Gada Lukitasari gada besar
15. Gada Rujak polo gada sedang
16. Bindi gada lumrah jumlah 2 buah
17. Limpung musala
18. Candrasa
19. Badama
20. Cakra
21. Cis
22. Cundrik
23. Tlempak
24. Kudi
25. Arit
26. Petel
C. Wayang Katongan
Wayang Panggungan. Yaitu wayang Yang dijajar di kiri dan kanan paseban,
ditancapkan di gadebog atas, di tengah ditancapkan wayang gunungan yang
dinamakan wayang panggungan, sedangkan penataannya dinamakan
menyumping.
Wayang katongan. Yang disebut wayang katongan yaitu wayang para ratu
yang di panggung sumpingan kiri dan kanan, sedangkan yang dinamakan wayang
pranakan yaitu semua wayang putra ratu atau putra satria, yang ikut dijajar di
sumpingan kiri dan kanan paseban tersebut.
Wayang Dugangan. Semua wayang punggawa kera dan buta yang tidak ikut
disumping, termasuk wayang dugangan. Wayang Ricikan. yang dinamakan
wayang ricikan yaitu wayang kayon (gunungan), prampogan, kereta, kuda gajah
serta senjata. Wayang Dagelan. Yang dinamakan wayang dagelan yaitu wayang
yang berwujud buta kecil tanpa badan, orang banyak menamakannya wayang
setanan. kalau sedang memainkan lakon wayang dengan wadubarat anggoda.
Pengambilan kata wayang dagelan tadi artinya buta tanggung. Tapi ada sejeis
wayang pembantu dinamakan punakwan (wulucumbu) Semar, Gareng Petruk, dan
ada lagi Cantrik, Cangik, Limbuk, Togog, Sarahita termasuk golongan wayang
dagelan.
Wayang gusen. Yang dinamakan wayang gusen yaitu wayang yang terbuka
mulutnya seperti Dursasana, Hindrajit dan lain sebagainya. Sedangkan Sengkuni,
Pandita Durna, Kartawarma dan sebagainya itu dinamakan gusen tanggung,
artinya wayang gusen tadi wayang yang kelihatan gusinya, kelihatan meringis.
Wayang Liyepan. Yang dinamakan wayang liyepan dan wayang lanyapan,
wayang pantelengan, menurut pada bentuk mata. Satu mata liyepan, dua mata
pantelengan. Wayang yang matanya liyepan untuk wayang nglangak dinamakan
lanyapan. Wayang yang matanya pantelengan dibuat jadi mata kadondongan,
menurut kebutuhannya sendiri. Kata liyep artinya ruruh, seperti Harjuna dan lainlain
sesama wayang tumungkul. Kata lanyapan yaitu wayang kebanyakan, seperti:
Samba, Rukmarata, Wisanggeni dan wayang yang nglangak.
Wayang kantep. Semua wayang yang bertangan dan kaki kepanjangan
kurang seimbang dengan badannya dinamakan kanteb, dari kata orang jatuh
terduduk disebut kanteb, pasti kakinya selonjor. Wayang kanteb itu kebanyakan
tanpa pola. Wayang murgan. Wayang yang dibuat tanpa pola misalnya Harjuna
tua, wandanya tidak menurut Jimat, Mangu, Kancut, maka dinamakan murgan.
Diambil dari kata mirunggan artinya menyendiri keluar dari adat yang sudah
kaprah. Misalnya orang membatik tanpa pola dinamakan ngrujag.
Wayang Srambahan. Yaitu semua wayang yang luwes lincah untuk
pinjaman dalam lakon apa saja, seperti wayang Gatutkaca dengan makuta bisa
digunakan untuk ratu Sabrangan; wayang Harjuna ditambah dengan slendang,
bisa dipinjam jadi Sakutrem, Palasara, Partadewa dan lain-lain, ada lagi Premadi
sampir, wayang baku ditambah sandang jadi kelihatan berubah dari pola wayang
yang pertama. Wayang srambahan itu banyak sasahnya. Sebangsa wayang
dudahan punggawa dan patih-patihan itu hampir semua bisa dinamakan wayang
srambahan. Tapi ada wayang buta prepatan, yaitu wayang candra sangkala memet
yang juga dinamakan wayang srambahan yaitu wayang buta punggawa yang bisa
luwes untuk pinjaman dalam cerita lakon apa saja, pasti jadi punggawa para ratu
Sabrangan apa saja untuk dijadikan utusan.
Wayang buta prepatan. Yaitu wayang buta candra sangkala tersebut,
pertama buta Panyareng umumnya disebut Buta Cakil, kedua buta rambut geni,
ketiga buta endog, keempat buta gombak (buta galiyuk) untuk melengkapi jika
ada lakon ratu Buta atau ratu Sabrang, sebagai utusan (caraka). Teman Togog dan
Sarahita. Atau digunakan untuk perang kembang, arti perang kembang adalah
perang kebanyakan orang terbunuh, hanya sebagai cara kematian caraka.
Wayang jujudan. Yang dinamakan wayang jujudan yaitu semua wayang
yang ditambah ukurannya jadi lebih besar dari polanya. Wayang pedalangan.
Yang dinamakan wayang pedalangan itu adalah wayang-wayang yang pasti
digunakan para dalang sedangkan ukuran wayang tidak besar atau tidak kecil,
ukurannya sedang enak dipakai semalam suntuk tidak merasa lelah. Jadi sudah
termasuk ukuran umum, diakai oleh para dalang. Wayang ribig. Yang dinamakan
wayang ribig yaitu wayang yang bentuknya turut-runtut, kalau disumping tidak
kelihatan naik turun, bahu dan palemahannya bisa rajin. Dari wayang yang besar
sampai yang kecil kelihatan enak dipandang. Wayang bajujag. Yang dinamakan
wayang bajujag yaitu wayang yang tidak ukurannya tidak tetap ukurannya.
Wayang dibuat tanpa pola atau meninggalkan pola.
Ketika bertahtanya Sinuwun Kanjeng Susuhunan P.B. IX di Surakarta,
waktu itu Kanjeng Pangeran Hadipati Harya Mangkunagara yang ke IV,
meminjam wayang purwa pada kraton lalu diberi wayang purwa Kyai Kadung
yaitu wayang yang hanya untuk lakon Rama, akan digunakan untuk wayangan.
Ketika itu banyak para dalang yang merasa terlalu berat karena wayangnya
kebesaran lalu menumbuhkan keinginan kanjeng pangeran untuk membuat
wayang, kebetulan di Mangkunagaran belum punya wayang purwa. Wandanya
seperti Kyai Kadung, ukurannya diperkecil serta badannya disesuaikan. Dewadewanya
hampir semua memakai makuta dan topong, bajunya dibuat pendek, jadi
tidak memakai jubah, bawahannya memakai kain rapekan pingirnya sembulihan.
Sedangkan Batara Kumajaya masiha tetap dengan gelung seperti Premadi, hanya
Batara Surya dan Patuk Tamboro yang masih tetap tidak berubah bentuknya.
Wayang itu dibuat dua perangkat yaitu jadi dua kotak, lengkap wandanya.
Dagelan yang satu golongan disebut Kyai Sebet pangkat I, cirinya ada di
palemahan yang diberi warna bendera Belanda, merah putih biru M.N.I.
sedangkan sisa wayang disebut jadi Kyai Sebet pangkat II, dasarnya cat M.N. II
prada. Ketika itu tahun 1793 dengan candrasangkala Mantri Trusta Mumuji di
Gusti, menunjukkan tahun 1793. Jadi menurut ukuran besar kecilnya wayang,
Kyai Sebet itu masih lebih besar dibandingkan dengan wayang pedalangan pada
umumnya.
D. Penyumping atau Paniti
Panyumping itu pekerjaannya menata wayang kulit jika akan dimainkan
Ki dalang dalam suatu hajatan, misalnya dalam pernikahan dan lain-lain.
Tugasnya mengatur wayang dalam tarub (rumah atau gedung). Menatanya harus
diatur agar serasi ditonton karena wayang kulit kalau digunakan untuk
memperindah acara harus bisa kelihatan rapi asri jika dipandang membuat senang.
Karena wayang kulit itu kalau sudah selesai ditata akan mewujudkan seni
keindahan kebudayaan Jawa asli, cara menata gamelan juga harus di tempat yang
tepat jangan sampai menutupi yang lain.
Kewajiban panyumping wayang kulit itu jika sudah selesai penataannya
harus bisa memasang blencong lampu wayang. Jika sudah dibersihkan lalu
dipasangi sumbu tali (uceng-uceng). Pemasangan sumbu jangan sampai terlalu
kuat karena jika sudah diisi minyak akan medok, kalau ditarik dengan sapit jadi
susah sehingga nyala apinya tidak bagus, tidak bisa terang, lebih sering surut
nyalanya, yang terbakar hanya sumbunya saja, minyaknya tidak. Makanya jadi
sering kelihatan hitam.
Sebaliknya jika sampai terlalu longgar juga tidak baik, serignkali sampai
kehabisan sumbu, jika ditarik sumbunya terlalu mudah lepas, mintaknya akan
menetes ke bawah membuat susah dalang karena sering terkena tetesan minyak.
Apa lagi jika minyak itu sampai menetesi wayang akan menjadi cacat dan meruak
wayang. Wayang kulit kalau sampai terkena minyak akan rusak catnya, lau
gampang terkena jamur, wayangnya lalu kelihatan lusuh catnya. Makanya harus
bisa mengira-ira agar pemasangan sumbu blencong tadi baik. Mempersiapkan
wayang yang akan dipakai oleh Ki dalang dalam lakon yang akan dimainkan.
Sebelum wayang dipakai, panyumping harus meminta keterangan dulu pada Kyai
dalang tentang lakon apa yang akan dimainkan dan apa wayang yang akan keluar
nanti.
Jika sudah mendapat keterangan tentang wayang yang dibutuhkan oleh
dalang, panyumping lalu mulai menata wayang dan mulai dirakit, dipilih wayang
yang akan digunakan diletakkan di tempat yang tepat supaya gampang dilihat oleh
Ki dalang. Sedangkan wayang katongan (yaitu ratu) yang akan keluar pertama
diletakkan dalam sumpingan kanan ditancapkan dalam gadebog paseban sebelah
bawah misalnya Prabu Kresna atau Prabu Yudistira, disesuaikan dengan lakonnya.
Katongan di sebelah kiri juga ditancapkan sekalian, misalnya Prabu Baladewa
atau sang adipati Karna ditancapkan di sebelah kiri di paseban bawah. Kalau
sudah lalu patih-patihan punggawa dan putran yang akan dipakai cukup
diletakkan dalam eblek di atas tutup kotak, sedangkan yang ada dalam kotak yaitu
para punggawa patih dan buta prepat atau para putran yang tidak termasuk dalam
sumpingan diatur dengan urut. Buta dengan buta, punggawa manusia dengan
manusia, jangan dicampur agar tidak bingung kalau akan mengambil wayang
yang dibutuhkan. Tersebut yang dinamakan ndapuk yaitu menyiapkan wayang
yang dibutuhkan oleh Ki dalang menurut lakonnya. Wayang yang tidak
dibutuhkan diletakkan dalam kotak bawah diberi pembatas eblek, karena wayang
itu tidak akan keluar untuk lakon, tidak perlu diubah nanti malah rusak dan
kelihatan berserakan.
E. Posisi Penyumping
Jika dalang sudah mulai memainkan wayang, panyumping lalu duduk di
sebelah kiri satu, di sebelah kanan satu. Panyumping itu sebaiknya dua orang,
yang kiri duduk di kiri dalang dibatasi kotak untuk membantu Ki dalang kalau
membutuhkan wayang yang ada di sumpingan sebelah kiri dan jauh dari si dalang,
sedangkan yang ada sebelah kanan dalang duduk di kanan dalang dibatasi tutup
kotak, tugasnya membantu mengambilkan wayang yang ada di sumpingan sebelah
kanan yang kira-kira Ki dalang tidak sampai mengambilnya.
Cara mengambil wayang dalam sumpingan itu harus hati-hati jangan
sembarangan. Wayang mana yang dibutuhkan, misalnya wayang Premadi.
Dimana tempat wayang putran Premadi tadi, cara mengambilnya yang benar yang
harus dibuka dulu belakangnya baru mengambil gapit wayang Premadi dengan
tangannya diringkas jangan sampai menyangkut wayang yang lain lalu ditarik
pelan-pelan dengan memperhatikan bahunya, menyangkut atau tidak. Jika
sekiranya sudah tidak menyangkut maka mulai ditarik lagi. Begitu seterusnya cara
mengambil wayang dalam sumpingan, jadi jangan dipaksa asal mengambil saja.
Ada dalang yang tidak mengerti cara jadi panyumping wayang padahal
dalang itu sudah kondang dan laris, lincah memegang dan menyabet wayang tapi
tidak bisa mengambil wayang dalam sumpingan dengan benar, mengambilnya
hanya sembarangan saja. Wayang diambil dengan berjongkok lalu dipegang
kepalanya ditarik ke atas. Cara seperti itu salah, belum tahu apesnya wayang.
Semua kepala wayang yang ada di sumpingan itu semua mudah rusak, ada
wayang yang makutan (topongan), ada yang gelung. Ukirannya seritan
melengkung bulat dan ada yang jungkungan (pogogan) gruda atas, ada yang
gelung keling. Itu semua ukirannya serba rumit dan kulitnya pasti tipis rata, gapit
yang paling atas yang jatuh di kepala wayang itu pasti tipis, sampai ada yang sama
dengan lidi, tarkadang kalau kurang ada ada yang disambung. Tersebut kalau cara
mengambil wayang ditarik dari atas kurang baik. Kadang bisa mematahkan gapit
bagian kepala atau memutuskan tatahan wayang yang rumti rumit tadi. Terlebih
lagi jika sampai pada wayang yang gelungnya ditatah seritan, itu yang paling
rapuh. Misalnya wayang Janaka atau Gatutkaca rambutnya ditatah seritan, kalau
wayang baru kultinya masih kuat, tapi kalau wayang lama atau wayang kuna pasti
sudah rapuh karena sudah sangat kering, kulitnya jadi getas gampang putus,
begitu juga gapitnya.
Panyumping yang mengambil wayang dengan berdiri atau berkongkok itu
dinamakan diksura (tidak tahu tatakrama). Itu kurang baik, tidak bisa menghargai
pada wayangnya, hanyadianggap seperti barang remeh saja, padahal wayang yang
ada di sumpingan itu adalah bentuk para ratu dan para satria. Kalau cara
mengambil sesuka hati maka seperti menghina.
Makanya panyumping yang mengambil wayang dengan berdiri atau
jongkok dinamakan diksura. Wayang jikia sudah digelar dalam keramaian pasti
banyak para tamu yang hadir, duduk melihat wayang yang sudah dipasang rapi
beserta gamelannya sekaligus. Setelah itu melihat Ki dalang memainkan wayang.
Padahal tamu tersebut bermacam-macam pangkatnya ada yang tinggi ada yang
rendah, sampai penonton yang ada di luar juga datang menonton. Jika melihat
panyumping yang sembarangan akan membuat kurang baik dipandang dan
mengganggu tontonan yang adi luhung tersebut. Sebaiknya mengambil wayang
itu dengan duduk saja, apa wayang yang dibutuhkan oleh Ki dalang.
Jika panyumping yang ada kanan dalang, meletakkan wayang di atas tutup
kotak kanan dalang, gapitnya diaturkan pada Ki dalang. Jadi kalau dalang akan
mengambil jangan sampai memegang kepala wayang. Panyumping yang ada
sebelah kiri, meletakkan wayang dalam kotak jangan sampai terbalik, begitu
seterusnya.
Jadi dalam wayang itu jika sudah mulai main jangan sampai ada orang
yang kelihatan bersliweran di depan pagelaran tersebut, jadi panyumping boleh
berdiri di belakang dalang itu hanya jika akan menambah minyak lampu blencong
saja (lampu wayang).
F. Sabetan Wayang
Ada lagi jika dalang akan memainkan wayang, di atas kotak diletakkan
eblek melintang di atas kotak, lalu diletakkan wayang sampai kelihatan
menumpuk. Itu tidak baik, jika dilihat jadi kotor. Kebanyakan melakukannya
adalah dalang di pedesaan yang meniru cara pesisir. Sedangkan di Yogyakarta
caranya juga seperti itu. Wayang yang berada di atas eblek itu akan digunakan
dalang dalam sabetan wayang yang akan perang dilempar-lemparkan, biasanya
lalu menyangkut dengan yang ada di atas eblek tersebut. Malah ada yang kadang
terkena siku sehingga mematahkan pegangan tangan wayang. Jadi panyumping
dalam melayani dalang semalam harus bisa hafal wayang apa saja yang pasti ada
dalam lakon dan harus bisa mengetahui apa wayang yang dibutuhkan oleh Ki
Dalang menurut lakon juga harus ingat pada wayang yang sudah tidak akan keluar
lagi dan segera disingkirkan jangan sampai mengganggu wayang yang masih
digunakan dalam lakon, cerita wayang semalam tersebut diletakkan dicampur
dengan wayang dudahan yang tidak termasuk dalam lakon tadi.
Meletakkan senjata wayang yang jelas satu-persatu, jangan hanya asal
diletakkan saja. Perlu dipilih senjata yang pasti digunakan, disiapkan di tempat
yang gampang mengambil sewaktu-waktu dalang membutuhkan. Jadi
panyumping harus bisa mengatur wayang pada saat acara karena itu adalah untuk
pameran, harus kelihatan rapi rajin dan bisa menimbulkan kaindahan yang adi
luhung, jangan sampai mengecewakan. Begtersebut pekerjaan panyumping. Kalau
di kraton Surakarta yang punya kewajiban adalah abdi dalem Lembisana, yaitu
abdi dalem yang pekerjaannya merawat bermacam-macam wayang kulit, ia
tinggal dalam gedung Lembisana.
PAKEM RADYA PUSTAKA
1. Prabu Tuhuwasesa
2. Raden Wrekudara wanda mimis, hitam
3. Raden Wrekudara wanda lindupanon
4. Raden Wrekudara wanda gurnat
5. Raden Wrekudara wanda lintang, hitam
6. Raden Bratasena wanda mimis, hitam
7. Raden Bratasena wanda gurnat
8. Jagal Abilawa (Balawa)
9. Raden Gatutkaca wanda kilat
10. Raden Gatutkaca wanda guntur
11. Raden Gatutkaca wanda tatit, hitam
12. Raden Gatutkaca wanda gelap, hitam
13. Raden Antareja
14. Raden Antasena
15. Raden Hanoman
16. Prabu Kresna wanda rondon
17. Prabu Kresna wanda mawur
18. Prabu Kresna wanda wanda gendreh
19. Prabu Harjunasasrabau
20. Prabu Ramawijaya
21. Prabu Pandudewanata
22. Prabu Parikesit (Dipayana)
23. Bagawan Palasara
24. Prabu Yudistira, wanda putut
25. Prabu Yudistira wanda panuksma
26. Raden Harjuna wanda kanyut
27. Raden Harjuna wanda jimat
28. Raden Harjuna wanda kunanti
29. Raden Harjuna wanda malatasih
30. Raden Harjuna wanda renteng
31. Raden Harjuna brongsong, wajahnya prada srambahan
32. Raden Harjuna sampir (slendangan) srambahan
33. Raden Puntadewa wanda malatsih
34. Raden Puntadewa wanda kunanti
35. Raden Suryaputra
36. Raden Madubranta
37. Raden Pandu
38. Raden Ramabadra
39. Raden Ramalesmana
40. Raden Premadi, wanda panmembuat
41. Raden Premadi, wanda pengasih
42. Raden Premadi wanda kunanti
43. Raden Premadi, sampir (slendangan) srambahan
44. Raden Nangkula
45. Raden Sahadewa
46. Dewi Jembawati, makutan
47. Dewi Sarpakanaka
48. Dewi Arimbi
49. Dewi Banowati, wanda berok
50. Dewi Banowati wanda golek
51. Dewi Kunti
52. Dewi Anggendari
53. Dewi Drupadi
54. Dewi Herawati
55. Dewi Banowati, muda rimong kasemekan (kemben)
56. Dewi Banowati muda slendangan
57. Dewi Sembodro, wanda rangkung
58. Dewi Sembodro, lentreng
59. Dewi Rukmini
60. Dewi Setyaboma
61. Dewi Srikandi, wanda goleng
62. Dewi Srikandi, wanda patrem
63. Dewi Pregiwa
64. Dewi Surtikanthi
65. Dew Jembawati gelung ukel
66. Dewi Dursilawati
67. Dewi Sitisendari wanda gandes
68. Dewi Utari
69. Dewi Laksakalauti
70. Dewi Laraireng wanda lanceng
71. Estren endel lanyapan untuk silihan
72. Estren Endel slendangan untuk silihan
73. Estren longok untuk silihan
74. Estren Luruh (oyi) untuk silihan
75. Estren Luruh (oyi) Selendangan untuk silihan
76. Estren Longok slendangan untuk silihan
77. Dewi Rukmini nom
78. Dewi Setyaboma nom
79. Dewi Hanjani
80. Dewi Mustakaweni
81. Bondan Paksajandu (Dewa Ruci)
82. Putran bocah kecil.
B. Tata Letak Sebelah Kiri
1. Buta Raton srambahan (Kumbakarna) wanda barong
2. Buta Raton srambahan (Kumbakarna) wanda macan
3. Prabu Niwatakawaca wanda mendung
4. Buta raton jamang gruda pogogan wanda kopek
5. Prabu Dasamuka (Rahwana) wanda bugis
6. Prabu Dasamuka (Rahwana) wanda bengis
7. Prabu bomantara Boma kuna sepuh
8. Prabu Bomanarakasura
9. Prabu Baladewa, wanda paripeksa
10. Prabu Baladewa, wanda sembada
11. Prabu Baladewa, wanda kaget
12. Prabu Baladewa, wanda geger
13. Prabu Sridenta
14. Prabu Duryudana wanda jangkung
15. Prabu Duryudana wanda jaka
16. Raden Kurupati
17. Raden Kakrasana, wanda kilat
18. Raden Kakrasana, wanda sembada
19. Prabu Basuketi
20. Prabu Kuntiboja
21. Prabu Basudewa
22. Prabu Matswapati
23. Prabu Drestarata
24. Prabu Drupada
25. Prabu Salya
26. Prabu Bismaka
27. Prabu Setyajit
28. Prabu Radeya
29. Prabu Karna, wanda bedru
30. Prabu Karna, wanda lontang
31. Raden Yadengandura
32. Raden Hugrasena
33. Raden Durgandana
34. Raden Sodo, Basudewa ketika muda
35. Raden Sucira, Drupada ketika muda
36. Harya Setyaki wanda mimis
37. Harya Setyaki wanda wisuna
38. Harya Setyaki wanda kakik
39. Ratu Sabrang Wok Prabu Partasudarma
40. Ratu Sabrang bagus (Prabu Dewasrani)
41. Harya Wibisana
42. Harya Prabu Rukma
43. Patih Suwanda
44. Raden Rukmarata
45. Raden Rukmara
46. Raden Drestajumna
47. Raden Gunadewa
48. Raden Warsakusuma
49. Raden Narasoma
50. Raden Narayana, wanda geblag
51. Raden Narayana, wanda sembada
52. Raden Samba wanda buntit
53. Raden Samba wanda sembada
54. Raden Samba wanda geblag
55. Raden Partajumna
56. Raden Pancawala
57. Raden Lesmana Mandrakumara
58. Raden Ongkawijaya wanda bangkung
59. Raden Ongkawijaya wanda buntit
60. Raden Sumitra
61. Raden Irawan
62. Raden Dewabrata
63. Raden Kresnadipayana
64. Raden Wijanarka wanda pengasih
65. Raden Wijanarka wanda miling
66. Raden Bisdengancara
67. Raden Wisanggeni
68. Raden Setyaka
69. Raden Caranggana
70. Raden Pinten
71. Raden Tansen
Wayang yang namanya tidak disebutkan dalam sumpingan kiri dan kanan di atas,
hanya digolongkan wayang dudahan meskipun wayang tadi katongan atau putran,
hanya termasuk golongan wayang dudahan saja.
C. Golongan para Kurawa
1. Pandita Druna, ada dua, yang satu keton, satunnya rambut gondel
2. Patih Sengkuni, ada dua, yang satu ketu batik, satunya ketu Karna
3. Raden Dursasana
4. Raden Durjana
5. Raden Durmuka
6. Raden Jayawikata
7. Raden Jayadrata
8. Raden Durmagari, wanda pocol ketu udeng batik
9. Raden Durmagati, wanda cawet pogog udalan
10. Raden Citraksa
11. Raden Citraksi
12. Raden Carucitra
13. Raden Surtayu
14. Raden Surtayuda
15. Raden Kartamarma
16. Raden Haswatama
17. Raden Burisrawa wanda pantat rapekan
18. Raden Burisrawa wanda cantuk kampuh jangkahan
19. Resi Krepa
D. Golongan Putran
1. Raden Harya Kincaka
2. Raden Rupakinca
3. Raden Seta
4. Raden Wratsangka
5. Raden Utara
6. Raden Gandamana
7. Raden Rajamaka artinya juru (jago) berkelahi
8. Raden Kangsa
9. Raden Ulmuka
10. Raden Yuyutsuh
11. Raden Danurwenda
12. Raden Sangasanga
13. Raden Dwara
14. Raden Kartapiyoga
15. Raden Hindrajit, wanda cawet
16. Raden Hindrajit, wanda pantat
17. Raden Trisirah
18. Raden Trikaya
19. Raden Dewantaka
20. Raden Yaksadewa
21. Raden Narantaka
E. Golongan Para Tapa
1. Resi Kanwa
2. Resi Habiyasa
3. Resi Bisma
4. Resi Santanu
5. Resi Sapwani
6. Resi Ramabargawa
7. Resi Bagaspati
8. Resi Wiraswa
9. Resi Kanumayasa
10. Sri Bagawan Baladewa
11. Bagawan Sumali
12. Bagawan Dupara
13. Bagawan Ciptaning (Mintaraga)
14. Bagawan Kapi Jembawan
15. Cekel Hendralaya
16. Putut Jayasemedi
17. Pandita Sepuh (Tuwa)
18. Demang Ontogopa
19. Jagal Walakas
Keterangan:
Mulai Raden Kaniyasa (Kanumayasa) sampai Harjuna (Janaka) semua adalah
wayang bokongan. Makanya kalau wayangnya kurang bisa meminjam wayang
Janaka dan Premadi. Lebih baik lagi kalau punya Janaka slendang dan Premadi
sampir atau Harjuna brongsong wajah kuning prada, itu yang bisa digunakan
untuk menggambarkan Resi Kanumayasa dan Sakutrem serta Sakri, jika cerita
pedalangan sampai sampai Janaka yang berwenang memiliki minyak
jayengkatong. Makanya kalau sedang bersedih hati lalu membuat gara-gara.
Setelah selesai perang kembang dan mulai akan berjalan dengan patet sendon
abimanyon. Kalau para putran raden Janaka semua, wayangnya jangkahan dan
tidak mempunyai minyak jayengkatong, tidak bisa memakai gara-gara, lagi pula
patetnya jingking. Setelah tiba cucunya raden Janaka yaitu raden Parikesit,
wayangnya kembali bokongan lagi.
F. Golongan Patih dan Punggawa
1. Patih Hudawa wanda tandhang
2. Patih Hudawa wanda jaran
3. Patih Pragota wanda pacel ketu merah
4. Patih Pragota wanda bundel rapekan
5. Patih Prabawa wanda pancol ketu merah
6. Patih Prabawa wanda gembel rapekan
7. Patih Saragupita (Yadawangsa)
8. Patih Tuhayata
9. Patih Nirbita
10. Patih Drastaketu
11. Patih Hadimanggala
12. Patih Handakasumeler
13. Patih Jayayatna
14. Patih Tambakganggeng
15. Patih Sucitra patih Madukara
16. Patih Jalasengara
17. Patih Sabrangan dengan baju
18. Patih Sabrangan tanpa baju
19. Punggawa tatagan dengan baju
20. Punggawa tatagan tanpa baju
21. Punggawa geculan dengan baju
22. Punggawa geculan tanpa baju
23. Patih Baratkatiga bala Jadipati
24. Raden Gagakblorok karan bala biti
25. Raden Dandangminangsi, bala biti
26. Raden Podangbinorehan, bala biti
27. Raden Jangetkinencang bala biti
28. Harya Bimana, jaman Wirata tua
29. Harya Bisana jaman Wirata tua
30. Harya Bilawa Patih santana Astina pada jamannya
31. Harya Basgawa, Palasara sampai prabu Pandudewanata
32. Harya Banduwangka
G. Golongan Para Dewa
1. Batara Guru wanda karna
2. Batara Guru wanda arca
3. Batari Durga wanda gedrug
4. Batari Durga wanda gidrah
5. Batara Narada
6. Batara Sambu
7. Batara Brahma
8. Batara Hendra
9. Batara Bayu
10. Batara Wisnu
11. Batara Mahadewa
12. Batara Yamadipati
13. Batara Kumajaya
14. Batara Surya
15. Batara Antaboga
16. Batara Kuwera
17. Batara Patuk
18. Batara Tamboro
19. Batara Basuki
20. Batara Pbaruikan (Srita)
21. Batara Cingkaralaba (buta)
22. Batara Balaupata (buta)
23. Batara Citrasena
24. Batara Citrarata
25. Sanghyang Baruna badannya gajah
26. Sanghyang Ganesa kepala gajah
27. Sanghyang Bandawangganala badannya penyu
G. Golongan para Danawa
1. Buta Raton muda gendong (Suratimantra), wanda mendung
2. Buta Raton muda gendong (Suratimantra), wanda kopek
3. Buta Panyareng (Cakil), wanda manyore
4. Buta Panyareng (Cakil), wanda batang
5. Buta Panyareng (Cakil), wanda naga mata kadondongan
6. Buta Punggawa mondol rambut bundel
7. Buta Punggawa Pragalba rambut jebolan
8. Buta Punggawa Pragalba jamang gruda
9. Buta Punggawa Galiyuk (Kobis) gombak
10. Buta Punggawa Endog buta gundul hidungnya bulat
11. Buta Punggawa Congklok (buta Terong)
12. Buta Punggawa Yuyurumping
13. Buta Mamangmurka, kepala babi
14. Buta Punuk dengan kuku seperti Bima
15. Buta Alasan laki-laki, Kala Raseksa
16. Buta Alasan perempuan, Kala Raseksi
17. Buta Emban Kenyawandu
18. Buta Rambutgeni Kala Dahana
Golongan buta Pringgodani
1. Raden Prabakesa
2. Raden Brajadenta
3. Raden Brajamusti
4. Raden Brajalamadan
5. Raden Brajamingkalpa
6. Raden Kalabendana
7. Raden Trembaka
8. Raden Trembuku
Golongan buta Setragandamayit
1. Buta Taliawuk, buta pangon
2. Buta Jarameya semua buta gundul, badan loreng
3. Buta Rindumaya seperti macan
4. Buta Niramaya
5. Buta Pulasiya, badannya putih loreng seperti macan
Golongan buta Kiskenda
1. Prabu Maesasura, semua berwujud buta, kepalanya bertanduk
2. Harya Jatasura besar taringnya
3. Patih Lembusura
4. Buta Punggawa kepala macan
5. Buta punggawa kepala gajah
Golongan buta Ngalengka
Yang harus ada jumlahnya 8, sedangkan yang lain cukup meminjam buta
punggawa srambahan saja.
1. Patih Prahasta
2. Raden Aswanikumba
3. Raden Kumbakumba
4. Dewi Sarpakanaka
5. Buta Punggawa Wirupaksa
6. Buta punggawa Mintrakna
7. Buta punggawa Sukasrana
8. Buta punggawa Wikataksini
Para ratu sabrangan cukup ada 10 macam saja yaitu yang dinamakan
wayang murgan srambahan, wayang ini biasanya ikut disumping. Bentuk wayang
yang digunakan untuk mewujudkan para ratu Sabrangan yaitu wayang murgan,
misalnya seperti disebutkan di bawah ini.
1. Wajahnya seperti Gatutkaca dengan makuta, hitam, jengkar
2. Wajahnya seperti Gatutkaca dengan topong Karna
3. Wajahnya seperti Boma dengan topong gusen
4. Wajahnya seperti Baladewa gusen dengan baju
5. Wajahnya seperti Boma rapekan dengan topong Karna praban
6. Wajahnya seperti Hadipatikarna rapekan mata kadelen
7. Wajahnya seperti Druyudana rapekan memakai baju, yang dinamakan
Prabu Sridenta
8. Wajahnya seperti Salya rapekan memakai baju
9. Wajahnya seperti Drupada rapekan praban
10. Wajahnya seperti Bismaka rapekan memakai baju
Nama-nama Ratu Sabrang
1. Prabu Jarasadda
2. Prabu Supala
3. Prabu Supali
4. Prabu Gardapati
5. Prabu Bagadenta
6. Prabu Sridenta
7. Prabu Kalinggapati
8. Prabu Pratipa
9. Prabu Citradarma
10. Prabu Dasarata
11. Prabu Barata
12. Prabu Janaka
13. Prabu Kartadarma
14. Prabu Danapati
15. Prabu Suryaketu
16. Prabu Candraketu
17. Prabu Banaputra
18. Prabu Bisawarna
Para Wanara cukup 15 buah
1. Prabu Subali
2. Prabu Sugriwa
3. Dewi Anjani
4. Raden Subali
5. Raden Sugriwa
6. Raden Jaya Hanggada
7. Raden Hanila
8. Kapi Jembawan
9. Kapi Hanala
10. Kapi Susena
11. Kapi Satabali
12. Kapi Saraba
13. Kapi Winata
14. Kapi Menda
15. Kapi Hedrajanu
Golongan dagelan
1. Semar wanda ginuk
2. Semar wanda dukun
3. Semar wanda brebes
4. Semar wanda mega temannya Bagong
5. Semar memakai cara wanita
6. Semar memakai cara dewa, lakon lintang prekacuk
7. Nala Gareng wanda wregul
8. Nala Gareng wanda kancil
9. Nala Gareng memakai cara wanita
10. Nala Gareng memakai cara dewa
11. Nala Gareng memakai cara ratu lakon Pandupragola
12. Petruk wanda mesem
13. Petruk wanda dlegong (jlegong)
14. Petruk wanda jamblang
15. Petruk memakai cara wanita
16. Petruk memakai cara dewa
17. Petruk memakai cara ratu, Prabu Gurdinadur
18. Bagong wanda gembor
19. Bagong wanda gilut
20. Bagong wanda ngengkel
21. Bagong memakai cara ratu, Prabu Patokol
22. Togog wanda goprak
23. Togog wanda burung
24. Saraita
25. Cantrik
26. Cantrik Janaloka
27. Cangik
28. Limbuk
29. Dewi Clekutana
30. Retna Juwita
31. Pawongan Emban gemuk
32. Pawongan inya gelung melintang
33. Parekan nyai tumenggung
34. Parekan nyai tumenggung, 2 buah
35. Pawongan, ceti
36. Pawongan, ceti, jumlah 2 buah
37. Parekan buta
38. Parekan buta, 2 buah
39. Emban Wungkuk
40. Kera kacangan kecil-kecil 8 buah
41. Macam-macam Setanan jumlahnya 9 buah.
Wayang yang tidak bisa diwujudkan itu hanya mulai Sanghyang Tunggal ke atas
sampai Sanghyang Nurcahya karena Sanghyang Tunggal sidah memberi perintah
pada Manikmaya (Batara Guru) begini katanya, “He Manikmaya ketahuilah,
adanya aku ini adalah adamu.” Batara Guru sendiri tidak bisa melihat wujud
bapaknya, maka cukup berbentuk suara Kyai Dalang saja.
MENATA WAYANG PURWA
Carannya, yang lebih dulu dipasang yaitu gedebognya, tapakdara
berjumlah empat buah diatur berjajar empat sesuai dengan panjang pendeknya
kelir dilebihkan kurang lebih satu meter. Pada bagian yang dipasang gedebog
yang panjang dulu sebagai tempat untuk para ratu (Katongan). Panjangnya
gadebog kurang lebih ada 6 meteran, kalau kurang bisa disambung disatukan di
tengah pucuk dengan pucuk. sedangkan pangkal gadebog ada di ujung kelir kiri
dan kanan. Lalu ambil gadebog yang satu lagi yang berukuran pendek sekitar lima
meteran, dipasang agak rindah sedikit untuk tempat para patih dan punggawa
yang pada menghadap ratunya. Yang ini agak pendek beda antara 6 cm, lalu
ditancapi tapakdara yang lancip agak pendek. Gadebog lalu dijajar dua, yang
panjang di atas, yang pendek di bawah. Kedua gadebog tadi lalu diikat dengan tali
kecil supaya bisa rapat, rata dan bisa kuat jangan sampai bergoyang. Lalu mulai
menggelar kelir yang akan dipasang, lubang kelir yang akan dipasang kiri dan
kanan lalu dimasuki sligi.
Sligi itu terbuat dari kayu jati yang dibuat bulat panjangnya menurut lebar
kelir yang sebelah dilebihkan 25 cm. Yang di bawah diruncingkan supaya
gampang menancap di gadebog sedangkan yang di atas rata. Yang rata
dimasukkan pada blandar kelir. Blandar itu dibuat dari bambu wulung dilubangi
kiri kanan. Panjangnya menurut panjang kelir dilebihkan 40 cm di satu sisi. Cara
merentangkan kelir itu harus dua orang, memegangi sligi kiri kanan. Sligi yang
rata dimasukkan ke lubang blandar kiri dan kanan, lalu diangkat bersama-sama
dan ditumpangkan di gadebog atas, lalu direntangkan yang sama kencang. Sligi
yang lancip di kiri dan kanan lalu ditancapkan ke gadebog secara bersama-sama.
Kelir sudah kelihatan terbentang menancap di gadebog, lalu blandar kelir diikat
dengan tali kecil pada tiang rumah kiri dan kanan, yang kuat jangan sampai rubuh
kalau tersenggol-senggol orang atau bocah. Karena kalau nanggap wayang pasti
banyak bocah yang menonton di sana. Makanya pemasangan kelir harus kuat.
sekarang kelir bagian palemahan di bawah ditancapkan di gadebog
paseban yang sebelah atas mulai dari kanan ke kiri. Cara menancapkannya adalah
dengan diselipkan supaya kalau tertarik ke atas jangan sampai gampang copot.
Lalu ganti platet kelir yang ada di atas ditarik dengan tali pluntur atau tali kecil
yang kuat jangan sampai gampang putus. Tapi pluntur itu diikat di blandar kelir
yang pas ditancapkan sligi, lalu ditarik ke bawah dimasukkan dalam platet mulai
dari sebelah kanan dahulu. Pluntur lalu dikaitkan di blandar kelir lalu ditarik ke
bawah dimasukkan di platet lagi, ditarik ke atas diikatkan pada blandar, ditarik ke
bawah. Begitu berulang-ulang sampai di platet yang terakhir di sebelah kiri lalu
diikat yang kencang. Merentangkan kelir harus kencang dan rata, jangan sampai
kendor kelihatan bergelayut. Kelir jika kendor pemasangannya, untuk memainkan
wayang tidak enak. Bagi yang menonton kurang bagus. Makanya pemasangan
kelir itu sebisa mungkin kelihatan terentang bersih dan kelihatan rata, serta agat
sedikit mayat. Sekarang pemasangan kelir sudah selesai. Kotak tempat wayang
segera diletakkan di sebelah kiri, dirapatkan dengan gadebog tempat wayang yang
di bawah, kotak lalu dibuka tutupnya diletakkan di sebelah kanan, bersebelahan
dengan kotak yang ada di sebelah kiri tadi.
Sekarang ganti memasang tali atau rantai yang akan digunakan untuk
menggantung blencong lampu wayang. Tali atau rantai itu diikat di blandar
rumah. Blencong lalu digantungkan. Untuk mengukur jauh dekatnya dengan kelir
kira-kira dua jengkal lebih 45 cm dengan nyala blencong sedangkan dari atas
blencong digantungkan antara dua jengkal, diukur dari atas kepala dalang kalau
sudah duduk dibawah kelir. Duduknya dalang itu tidak berada persis di bawah
blencong tapi agak mundur sedikit agar wajah Ki dalang jangan sampai tersorot
oleh nyala blencong itu karena kalau sampai tersorot nyala blencong maka akan
silau penglihatannya pada wayang wayang.
B. Sumping Sekar Melati
Meyumping wayang kulit dengan benar tidak gampang. Nyumping artinya
dari kata sumping misalnya asesumping sekar melati, yaitu sepasang kembang
melati diselipkan di telinga (daun telinga kiri dan kanan), harus memilih bunga
yang besarnya sama dan sesuai dengan telinga. Tersebut arti kata sumping,
membuat agar agar bisa kelihatan seimbang jiia dilihat dari tengah-tengah.
Begitu juga menyumping wayang, yaitu menjajarkan wayang yang
ditancapkan di gadebog urut dari yang besar sampai yang kecil, pemasangan
wayang yang besar agak jauh dari kelir sedangkan wayang yang ukuran sedang
menempel di kelir, ditancapkan di gadebog atas, kiri dan kanan. Cara
mengaturnya harus dibuat sama supaya kalau dilihat bisa kelihatan timbang,
jangan sampai kelihatan berat sebelah. Jika wayangnya banyak yang tersisa,
disumping pada gadebog yang sebelah bawah, juga diurutkan seperti yang sudah
selesai disumping di sebelah atas tadi. Cara penataan kiri dan kanan dibuat sama,
jangan sampai kelihatan tidak seimbang jika dilihat. Jadi intinya kembali pada
kata sumping tersebut, harus imbang kiri dan kanan. Penataannya supaya
kelihatan rapi, urut bahu wayang yang besar terus diurutkan sampai wayang yang
kecil. Di sebelah kiri dan kanan wayang yang disumping tersebut di tengah diberi
sela untuk tempat wayang jika dalang sudah mulai memainkan wayang. Sela
tempat tadi lebarnya antara 180 cm, lebih lebar yang sebelah kiri. Sebelum
wayang mulai main, kayon (gunungan) ditancapkan di tengah kelir dulu. Cara
menancapkan wayang semua harus pas dengan palemahan kelir, kalau terlalu
dalam menancapkannya disebut kungkum, kalau terlalu ke atas disebut terbang,
makanya palemahan wayang harus bisa menumpang pas dengan palemahan kelir.
Cara penataan wayang itu yang paling atas pasti gunungan (kayon), lalu
wayang sumpingan sebelah kanan. Wayang yang paling besar yaitu Prabu
Tuhuwasesa (Werkudara jadi ratu) ditata sebagai wayang sumpingan sebelah
kanan. Kayon diambil dulu lalu ditancapkan di gadebog paseban atas di tengah
kelir pas dengan palemahan kelir. Kalau belum untuk menancapkan rapat dengan
kelir supaya kelihatan rajin. Lalu wayang bagian sumpingan kanan diambil
sekaligus dengan ebleknya keluar dari kotak lalu ditumpuk di atas tutup kotak
yang ada di sebelah kanan tempat duduk tempat duduk dalang, lalu diambil satusatu
urut dari atas, Wayang yang paling besar pada sumpingan kanan yaitu Prabu
Tuhuwasesa (Werkudara jadi ratu) ditancapkan di dagebog atas. Terakhir, kelir
sebelah kanan agak keluar sedikit, lalu Wrekudara yang badannya gemblengan
(prada kuning), lalu Wrekudara yang badannya hitam. Begitu seterusnya sampai
putran dan putren, sampai Dewa Ruci dan putran bocah kecil habis. Cara
penataannya jangan sampai ditancapkan miring lurus, yang ada di depan sendiri
agak miring sedikit. Kalau sudah ada lima wayang yang ditancapkan, baru dibuat
agak miring lurus sampai habis. Semua wajah wayang diatur supaya kelihatan
jelas satu-persatu, supaya gampang memilih wayang jika sewaktu-waktu
dibutuhkan oleh dalang, serta bahu wayang dibuat urut mulai dari depan sampai
habis. Palemahan wayang menumpang di palemahan kelir, diurutkan yang rapi
jangan sampai kelihatan naik turun. Maksudnya agar wajah wayang terlihat jelas
sehingga memudahkan memilih wayang. Menancapkan wayang harus dikira-kira
agar bisa kuat jangan sampai terlalu dalam atau terlalu dangkal. Kalau terlalu
dalam menancapkannya nanti sewaktu-waktu dibutuhkan susah diambil, kalau
terlalu dangkal, kalau kelir itu tersenggol bergerak karena sabetan wayang atau
tersenggol bocah, wayangnya bisa ambruk sehingga kurang baik atau bisa
merusakkan wayang.
Kalau menyumping wayang sebelah kanan sudah selesai, ganti yang
sebelah kiri. Cara penataannya juga sama seperti sebelah kanan. Bedanya kalau
yang sebelah kiri yang ada paling depan adalah buta Raton yang biasa dinamakan
Kumbakarna terus disambung buta Raton muda, lalu Dasamuka seterusnya
sampai wayang yang kecil yaitu Caranggana atau Pinten dan Tansen. Semua
tangan wayang diatur ngapurancang agar jangan sampai kelihatan terlalu panjang
pegangan tangannya. Cara menancapkan wayang disusun agar kelihatan rapi asri
dipandang. Kiri dan kanan kalau dipandang kelihatan timbang, itulah yang
dinamakan nyumping wayang. Tinggi rindahnya pemasangan gadebog paseban
yang bawah hampir sama dengan bibir kotak wayang, kalau sampai terlalu ke atas
nanti nyangklak, tidak enak untuk sabetan wayang, kalau terlalu rindah wayang
kelihatan amblas juga kurang bagus. Maka agar pas, yang dipakai untuk
mengukur adalah bibir kotak wayang.
C. Menyumping Cara Pedesaan
Tata cara menyumping wayang cara pedesaan sama saja, hanya bedanya
yang pasti, kadang terselip wayang yang tidak pantas disumping ikut disumping
sehingga mengotori yang ditonton. Biasanya wayang di pedesaan itu kalau
wayangnya lengkap, kadang-kadang ada wayang buta Raton kepala Kerbau
(Maesasura) dan buta kepala sapi (Lembusura) dan ada lagi dewa kepala Gajah
(Batara Ganesa) dan buta Balasrewu (Triwikrama) serta Petruk jadi ratu (Prabu
Gurdinadur). Itu semua digolongkan wayang katongan sedangkan wayang yang
besar-besar itu ikut disumping sehingga membuat kacau dan kurang pantas.
Sehabis melihat wayang yang bagus di sumpingan sebelah kanan, setelah ganti
melihat sumpingan sebelah kiri lalu melihat bentuk kang menyolok mata yaitu
bentuk kepala hewan kelihatan menyembul bercampur dengan wayang yang
berwujud manusia di sumpingan. Apalagi melihat hidung Petruk menutupi mulut
Dasamuka. Itu namanya tidak bisa timbang dengan yang ditonton. Memang benar
menurut waton wayang, yang disumping itu golongan wayang katongan dan
putran. Tapi kalau wayang tersebut tidak pantas dan kurang sesuai maka tidak
perlu diikutkan dalam sumpingan, nanti malah merusak pandangan. Dan lagi ada
wayang kera Sugriwa dan Subali yang juga sering diikutkan dalam sumpingan, itu
juga kurang bagus.
Intinya harus dipilihi mana wayang yang sekira pantas dan sesuai jadi
tontonan dalam sumpingan tersebut. Kalau hanya menuruti wayang wayang
katongan dan putran yang harus disumping, nanti akan ada wayang Kurawa ikut
dalam sumpingan. Kurawa yang ikut dalam sumpingan itu hanya Prabu
Duryudana dan putranya Lesmana Mandrakumara. Sedangkan wayang kera yang
pantas ikut disumping itu hanya satu Hanoman, diletakkan di sumpingan kanan.
Resi Parasu wayangnya besar sama dengan Jagal Bilawa, juga kurang pantas jika
diikutkan dalam sumpingan karena rambutnya mengembang dan kelihatan
pahanya yang tanpa celana. Itulah yang membuat kurang pantas menjadi tontonan.
Jadi semua wayang yang kelihatan aneh jangan sampai diikutkan dalam
sumpingan, sebaiknya dicampur dengan wayang dudahan saja. Urutan tatanan
menyumping wayang purwa bisa dilihat dalam serat Bau Warna Wayang jilid
satu, di sana sudah ada keterangan jelas dengan wanda-wanda wayang purwa
lengkap.
D. Menyumping Cara Pesisir
Caranya sama dengan sumpingan cara pedesaan, bedanya, ada yang sangat
menyimpang sehingga membuat kurang enak ditonton yaitu setelah menyumping
wayang kiri dan kanan lalu di atas kepala wayang sumpingan yang sebelah kanan
disisipi wayang Batara Guru, sumpingan sebelah kiri disisipi Batari Durga. Semua
seperti berada di atas kepala wayang yang disumping di sebelah kiri dan kanan
tadi. Kalau menurut kesesuaian dan keindahan kurang baik karena menbuat kotor
tontonan. Barang yang sudah diatur dengan rapi dan kelihatan bersih, malah
ditambahi barang yang aneh di atas kepala wayang sumpingan, terlebih lagi
Batara Guru yang mengendarai sapi, jadi kelihatan ada sapi di atas kepala. Yang
seperti tersebut harus dipikirkan jangan hanya dipikir bahwa itu adalah wayang
yang ada dalam satu kotak ternyata malah menghilangkan keindahan tontonan
Begitulah jika orang tidak mengerti pada keindahan tontonan, terlebih jika
wayangnya banyak dan lebih lengkap, kadang-kadang mempunyai wayang
Sanghyang Wenang dan Sanghyang Tunggal, lalu kelihatan sumpingannya terlihat
tidak rata. Wayang yang digunakan dalam pasamuan apa saja, itu sebenarnya
hanya untuk meramaikan suasana, jadi tontonan yang kelihatan indah dan menarik
hati.
Maka di sini disampaikan bahwa tidak gampang menata wayang
sumpingan, harus bisa membuat tontonan yang rapi dan bisa memperlihatkan
keindahan wayang, bisa memilih mana wayang yang patut jadi tontonan dalam
sumpingan agar kelihatan enak dipandang karena wayang ketika dipakai main
oleh Ki Dalang atau sebelumnya akan jadi tontonan para priyayi yang hadir dan
menyaksikan permainan Ki Dalang tersebut. Selain melihat kepiawaian Ki Dalang
juga melihat keindahan tontonan wayang yang dijajar di kelir sebagai pemanis
acara tadi. Kalau ada tamu yang senang pada bentuk wayang tadi malah kadangkadang
sampai lama bertanya pada penyumping. Kadang bertanya ini wayang dari
mana, milik siapa kok kelihatan bagus, pastinya yang punya tahu dan suka pada
keindahan kagunan Jawa sehingga bisa menyesuaikan bentuk dengan
keindahannya. Sebaliknya jika penataannya kurang baik, kelihatan naik turun dan
banyak wayang yang tidak patut diikutkan dalam sumpingan, lalu kelihatan aneh
dilihat, wayangnya lalu kelihatan remeh. Dalam seni kebudayaan lalu tidak ada
harganya karena kurang bisa menempatkan wayang jika akan digunakan untuk
hajatan. Ada lagi menyumping wayang kayonnya ada tiga (gunungan) yaitu yang
ditancapkan di tengah satu, sedangkan yang dua ditancapkan di sebelah kiri satu,
di sebelah kanan satu, ini memperlihatkan jika yang punya wayang sedang senang
pada bentuk ukiran wayang yang kelihatan rumit, lalu ingin membuat gunungan
sampai tiga jumlahnya. Setelah wayang digunakan lalu diikutkan semua sekalian
dipamerkan pada para tamu, supaya bisa dilihat oleh para tamu.
Gunungan tiga dibuat tiga macam, ada yang bentuk kolaman dan ada yang
bentuk gapuran, di sebaliknya dicat berbeda-beda, jadi tiga macam. Ada yang
merah menggambarkan nyala api, ada yang dicat abu-abu menggambarkan awan
dan ada yang dicat biru muda bergaris putih menggambarkan air atau angin.
Begtersebut maksud yang punya wayang. Ada lagi wayang gunungan yang dicat
bolak-balok sama, tanpa dicat nyala api. Itu adalah gunungan yang hanya untuk
wayang kayu, yaitu wayang klitik atau wayang golek di tanah Pasundan, karena
wayang kayu itu tanpa kelir jadi jika dilihat dari depan atau dari belakang bisa
kelihatan sama.
Kalau sumpingan wayang kayonnya ada dua, yang satu pasti ditancapkan
di tengah sedangkan satunnya lagi ditancapkan di sebelah kiri. Itu akan membuat
tontonan kelihatan berat sebelah, setelah melihat tontonan besar sampai yang
kecil, kiri dan kanan sudah kelihatan timbang, di tengah lalu ada bentuk cembung
satu yaitu gunungan, itu sudah baik malah ditambah di sebelah kiri ada gunungan
satu lagi sehingga menjadi kurang enak dilihat.
Repotnya memasang sumpingan kayon tiga atau dua yaitu kalau akan
gapuran. Srinata kembali ke istana dan berhenti di depan bangsal Srimanganti.
Kayon yang ada di tengah tadi akan susah mau ditancapkan di mana. Kalau
ditumpuk jadi satu akan kelihatan berjejal, tidak enak dilihat. Sedangkan jika ada
dua gunungan, susahnya adalah ketika perang ampyak, perang prajurit prampogan
yang akan meratakan jalan, yang digunakan untuk menggambarkan hutan dan
semak-semak juga gunungan itu lagi. Kayon yang ada di tengah akan lalu
ditancapkan di sumpingan yang sebelah kanan. sedangkan yang kiri pasti yang
akan dijadikan hutan dan semak tadi. Kalau sudah ditancapkan semua, prampogan
akan kelihatan ada di tengah-tengah seperti diapit gunungan, jadi seperti ada
dalam jurang di tengah-tengah gunung. Kalau sudah dimainkan akan kelihatan
goncang, menghilangkan keindahan tontonan dan memenuhi tempat, kelir jadi
kurang luas karena penuh dengan wayang yang besar-besar menutupi tontonan
yang lain. Sebaiknya kayon (gunungan) itu cukup satu saja sudah cukup, jadi
tidak kelihatan memenuhi tempat.
E. Memajang Wayang
Menurut pedalangan di Surakarta, menata wayang sumpingan itu sudah
ditentukan karena wayangnya hanya mengambil wayang yang bisa digunakan
untuk lakon apa saja. Jadi tidak perlu terlalu banyak memajang wayang. Kalau
kebanyakan lebih baik dijadikan dua kotak sedangkan yang sudah-sudah, biasanya
wayang gunungan cukup hanya satu saja serta dicat seperti pada umumnya, yaitu
di sebaliknya digambar nyala api. Karena itu biasanya dalam cerita pedalangan
kalau sedang terjadi kebakaran atau menggambarkan kawah Candradimuka, yang
digunakan adalah bentuk gambar nyala api tersebut.
Adanya gunungan atau yang dinamakan Kayon itu ketika sabelum jaman
Kartasura, kebanyakan adalah bentuk kolaman yang hanya menggambarkan
bentuk seisi hutan, pepohonan yang mempunyai buah dan bunga, sampai dengan
hewan buruan, yaitu buruan darat, ari dan burung. Yang seperti itu dinamakan
kayon Kolaman. Setelah jaman Kartasura, Kanjeng Susuhunan P.B. II membuat
wayang klitik yang terbuat dari kayu mirit, dibuat oleh Pangeran Ratu Pekik.
Setelah jadi disebut wayang krucil, oleh orang banyak disebut wayang klitik, lalu
diberi candra sangkala memet berupa wayang gunungan, di tengah digambar pintu
gapura, di kiri kanannya dijaga raksasa yang membawa gada. Diberi candra
sangkala Gapura Lima Retuning Bumi, yaitu tahun 1659.
Jadi wayang gunungan yang memakai gambaran gapura itu adanya ketika
jaman Kartasura dan digunakan dalam wayang Krucil. Bolak-balik gambarnya
sama karena wayang kayu itu tanpa kelir dan banyak dimainkan pada waktu siang
hari. Sampai sekarang banyak wayang purwa pada dengan Kayon (gunungan)
berbentuk gapuran, sedangkan yang bentuk kolaman semakin berkurang.
PENJELASAN SERAT SASTRAMIRUDA
Pohon tal itu bentuknya seperti pohon mangga, daunnya agak kuat serta
panjang dan lebar. Daun itu biasanya digunakan untuk tempat menulis pada jaman
kuna, juga bisa digambari. Daun tersebut kuat disimpan lama. Itulah guna daun tal
ketika jaman kuna sebelum ada kertas. Wayang Ron Tal itu, wayang yang dibuat
dari daun tal, digambar dengan alat berbentuk barang seperti paku besar
diruncingkan atau kalam aren yang gagagnnya diruncingkan. Yang digunakan
untuk pola gambar adalah gambar dari candi Panataran, disalin satu-satu
disamakan dengan bentuk gambar-gambar yang dibutuhkan. Tapi setelah jadi
gambarnya tidak ditatah keluar seperti wayang kulit sekarang. Jadi tidak dicat,
hanya berwujud gambar saja lalu disimpan di kandaga (kotak berukir) sebagai
tempat untuk penyimpanannya. Kalau diambil dan dikeluarkan satu-satu lalu
diceritakan menurut lakonnya, tanpa kelir gadebog kepyak serta blencong, hanya
dengan duduk menghadap kotak sambil melihat gambaran yang keluar dari kotak,
hanya mengambil cerita dongengan babad saja tanpa suluk. Kalau sudah merasa
capek lalu bubar. Adanya wayang Ron Tal ketika jaman Prabu Jayabaya di negara
Mamenang ketika tahun surya 861.
Wayang itu hanya sampai jaman Prabu Suryahamilihur di negara Jenggala.
Setelah pindah kraton ke Pajajaran lalu ada wayang beber, ketika tahun surya
1166 – sedangkan wujud gambar wayang sama seperti manusia, hanya sampai
jaman Majapahit terakhir. Setelah sampai jaman Demak, bentuk wayang diubah
semua menjadi miring, hidung, badan, tangannya serba panjang. Wayang Ron Tal
sekarang sudah tidak ada.
B. Wayang Beber
Wayang beber berbeda dengan wayang yang dipakai mengamen, lalu
beber beber di jalan-jalan itu. Kata beber di sini maksudnya mempunyai digelar,
karena wayang tersebut kalau akan keluar diceritakan lalu digelar agar bisa dilihat
orang banyak, menurut cerita lakon wayang tadi.
Wayang Beber itu hanya berbentuk gambaran wayang purwa atau wayang
Gedog yang digambar di atas kertas. Panjangnya hanya sadepa lebarnya 70 cm, di
kiri kanan diberi alat kayu bulat sebagai untuk merentangkan, lalu ditancapkan di
deling yang dilubangi sebagai gadebognya. Kalau sudah digelar di situ ada
gambaran apa, Ki Dalang lalu menceritakan kisah wayang itu. Kalau Dalangnya
bisa membanyol, meskipun wayangnya tidak bisa digerakkan, yang menonton
akan tetap tertawa karena kelucuan sang dalang.
Wayang beber biasanya hanya untuk ruwatan (Murwakala). Adanya
wayang beber ketika jaman Pajajaran tahun 1166 – tahun surya, sampai Majapahit
terakhir. Setelah jaman Raden Patah menjadi ratu Ratu di Demak tahun 1440 –
tahun candra, wayang beber lalu diganti kulit sampai sekarang ini. Ketika jaman
Demak sampai Mataram, wayang Beber masih dimainkan tapi hanya di kota
pinggiran dan di pedesaan saja.
Wayang beber dibuat dari kertas Jawa (kertas Ponorogo) yang kuat,
warnanya seperti kertas layang-layang. Setelah sudah banyak lawon (kain mori)
lalu diganti semua agar kuat disimpan serta awet. Wayang beber sekarang sudah
tidak dimainkan untuk di umum. Jadi sudah mati, tidak ada, dan lagi tidak setiap
orang punya punya wayang beber tadi. Kebanyakan hanya menyimpan wayang
kulit saja sampai dua atau tiga kotak, jadi terang wayang beber sudah mati tidak
dimainkan lagi.
C. Serat Dasanamajarwa
1. Arti Nama Buta
Buta : artinya besar atau mamak, serta sering mengeroyok dan
merebut.
Danawa : artinya dekat dengan napsu, keturunan Batara Danu
Ditya : artinya orang pilihan, serba bisa.
Raksasa : artinya sebangsa bregasakan (beringas)
Raseksa : artinya Buta laki-laki.
Raseksi : artinya buta wanita atau Diyu.
Wil : artinya angarad atau angeret.
2. Arti Nama Kera
Kera : artinya kaya suara
WRE : artinya bisa anjelih
Kapi : artinya kaya bulu
Wanara : artinya hewan berwujud manusia
Palwaga : artinya serba trampil
Palgasa : artinya serba mengerti
Palwaga : artinya serba cepat
Rewanda : artinya pemimpin suara
Kutila : artinya buruk bentuknya
Kencung : artinya kera wanita
D. Nama Sebutan Pandita
Pandita : artinya pepunden, dijunjung tinggi dimana saja berada.
Dwija : artinya angesti terus lahir batin
Dwijajawara : artinya melakukan dua perkara, yang pertama memuja dewa, yang
kedua meminta keselamatan.
Resi : artinya suci.
Wasista : artinya lebih awas, mengetahui sebelum terjadi
Sayuti : artinya mesu cipta
Pandita : artinya guru besar yang serba putus, wajib disebut panembahan.
Rerehan pandita
1. Ajar : artinya wajib mengajari, juru ajar
2. Wasi : artinya juru pangadilan, menyelesaikan perkara
3. Janggan : artinya yang menjadi juru tulis
4. Manguyu : artinya yang bertugas menabuh genta ketika dalam acara
pemujaan
5. Putut : artinya tukang merawat sanggar palaggatan, atau
bertugas memasang alat sesaji pemujaan.
6. Cekel : artinya tukang juru taneman, atau jagi rumeksa pategilan,
awon baik ada tetanggelanipun cekel.
7. Cantrik : artinya yang bertugas melayani sebarang pekerjaan, atau
suruhan.
8. Uluguntung : artinya lurah kampung, yang bertugas mengatur
semuanya
9. Geluntung : artinya orang sudah memiliki rumah bertiang empat,
pekerjaannya mencari rumut, mengambil kayu atau air.
10. Indung-indung : artinya orang yang sedang mondok, tugasnya mencari
rumput di hutan di sekitar gunung.
Rerehan pandita perempuan
1. dungik : artinya orang pingitan yang akan jadi istri kyai Ajar,
tugasnya bercerita tentang lakon jaman kuna yang bisa
menjadi teladan bagi para perempuan, yang biasanya
cerita dongeng.
2. Mentrik : artinya juru rawat sebarang pakaian, makanan dan
sebagainya.
3. Sontrang : artinya dukun, menghilangkan penyakit atau merawat
putra dan cucu Ki Ajar.
4. Dayang : artinya tukang menebar bunga di sanggar palanggaran.
5. Bidang : artinya menjadi inya yang menyusui putra dan cucu Ki
Ajar.
6. Endang : artinya pesuruh.
7. Kaka-kaka : artinya perempuan yang memasak (koki)
8. Abon-abon : artinya tukang sapu atau tukang cuci, membersihkan
segala sesuatu.
9. Abet-tabet : artinya tukang mengambil air atau mencari sayuran
10.Obatan : artinya perempuan yang menyiapkan sasajen atau
membeli ke pasar.
11.Wiku : artinya petunjuk ilmu pengetahuan.
E. Wayang Srambahan
Jumlah wayang purwa yang umumnya digunakan dalam pedalangan di
Surakarta. Wayang purwa pedalangan yang penting harus memilih wayang yang
luwes untuk srambahan, artinya bisa sumrambah, wayang srambahan bisa
mempunyai nama tiga atau empat. Misalnya wayang Harjuna slendangan bisa
bernama Sakutrem, Kumajaya, Rama Regawa, bisa jadi Palasara. Itulah tujuan
dalang dalam membuat wayang srambahan sampai bermacam-macam beberapa
wayang agar bisa untuk mengurangi jumlah wayang. Sedikit sudah bisa
mencukupi, begitu maksudnya para dalang.
Jumlah pemilihan wayang oleh dalang seperti di bawah itu:
Sumpingan kanan:
1. Kayon (Gunungan)
2. Prabu Tuhuwasesa
3. Raden Wrekudara (kuning)
4. Raden Wrekudara (hitam)
5. Raden Bratasena (kuning)
6. Raden Bratasena (hitam)
7. Raden Gandamana
8. Raden Antareja
9. Raden Gatutkaca (kuning)
10. Raden Gatutkaca (hitam)
11. Raden Antasena
12. Raden Hanoman
13. Batara Guru
14. Prabu Rama (srambahan)
15. Prabu Kresna (kuning)
16. Prabu Kresna (hitam)
17. Prabu Yudistira. Amarta
18. Raden Sakutrem (srambahan)
19. Raden Harjuna
20. Raden Harjuna
21. Raden Harjuna
22. Raden Suryaputra
23. Raden Kuntadewa Amarta
24. Raden Premadi
25. Raden Premadi
26. Kumajaya (Premadi slendangan srambahan)
27. Raden Nangkula
28. Raden Sahadewa
29. Batari Durga
30. Dewi Sarpakanaka (srambahan)
31. Dewi Banowati
32. Dewi Jembawati
33. Dewi Kunti
34. Dewi Dropadi
35. Dewi Sembadra
36. Dewi Srikandi
37. Dewi Setyawati (srambahan)
38. Dewi Ratih (srambahan)
39. Dewi Setyaboma (srambahan)
40. Dewi Pregiwa (srambahan)
41. Dewi Pregiwati (srambahan)
42. Dewi Leskalauti (srambahan)
43. Dewi Anjani
44. Dewi Rara Ireng – Bratajaya
45. Bondanpaksadanu (Dewa ruci)
46. Putran (Bayen)
Sumpingan kiri:
1. Buta Raton makutan (Kumbakarna) srambahan
2. Buta Raton pagogon (Niwatakawaca) srambahan
3. Buta Raton muda ngore (srambahan)
4. Prabu Dasamuka
5. Harya Kangsa (srambahan)
6. Prabu Bomanarakasura (srambahan)
7. Prabu Baladewa
8. Prabu Baladewa
9. Ratu Sewu negara (srambahan)
10. Boma muda pagogon (srambahan)
11. Prabu Druyudanan
12. Raden Kurupati
13. Harya Kencaka
14. Harya Rupakenya
15. Harya Kakrasana
16. Harya Seta
17. Harya Utara
18. Harya Wratsangka (srambahan)
19. Harya Setyaki
20. Prabu Basudewa di Mandura
21. Prabu Kuntiboja (srambahan)
22. Rpabu Matswapati di Wirata
23. Prabu Drupada di Pancalareja (srambahan)
24. Prabu Salya di Mandraka
25. Prabu Bismaka di Kumbina
26. Prabu Setyajit di Nglesanpura (srambahan)
27. Prabu Karna di Ngawangga
28. Ratu Sabrang wok rapekan (srambahan)
29. Prabu Palgunadi (srambahan)
30. Dewa Srani (sabrang bagus srambahan)
31. Raden Haryaprabu Rukma (srambahan)
32. Raden Nayarana
33. Raden Drestajumna (srambahan)
34. Raden Samba
35. Raden Rukmarata
36. Raden Lesmana Mandrakumara
37. Raden Pancawala (srambahan)
38. Raden Wijanarka (srambahan) Bambangan
39. Raden Irawan
40. Raden Ongkawijaya
41. Raden Ongkawijaya
42. Raden Setyaka
43. Raden Pinten
44. Raden Tansen
45. Raden Wisanggeni
46. Raden Caranggana (srambahan)
F. Penggolongan Dudahan Wayang
Para Kurawa
1. Pandita Durna
2. Patih harya Sangkuni
3. Raden Dursasana
4. Raden Durmagati
5. Raden Jayadrata
6. Raden Citraksa
7. Raden Citraksi
8. Raden Kartawarma
9. Raden Burisrawa
10. Wasi Haswatama
Para Jawata dan para tapa
1. Batara Narada
2. Batara Brahma
3. Batara Hendra
4. Batara Yamadipati
5. Batara Patuk
6. Batara Tamboro
7. Batara Surya (srambahan)
8. Pandita Bagus (srambahan)
9. Pandita tua (srambahan)
10. Resi Bisma (srambahan)
11. Resi Abyasa
12. Resi Jembawan
Putran patih dan punggawa
1. Raden Hindrajit
2. Raden Trisirah (srambahan)
3. Raden Rajamala tidak rapekan (srambahan)
4. Patih Hudawa
5. Patih Tuhayata (srambahan)
6. patih Tambakganggeng (srambahan)
7. Patih Pragota rapekan (srambahan)
8. Patih Prabawa rapekan (srambahan)
9. Patih Sabrangan tanpa pakaian (srambahan)
10. Patih Sabrangan dengan pakaian (srambahan)
11. Punggawa Tatagan dengan pakaian (srambahan)
12. Punggawa Geculan Suramendem.
Para danawa
1. Danawa Pragalba
2. Danawa Cakil
3. Danawa Cakil mata kadondongan, ngore
4. Danawa Terong (Congklok)
5. Danawa Galiyuk (gombak)
6. Danawa Rambutgeni
7. Danawa Mondol buta kuna (srambahan)
8. Danawa Kenyawandu, emban
9. Danawa Wanan Laki-laki
10. Danawa Wanan perempuan
11. Danawa Wahmuka (srambahan)
12. Danawa Harimuka (srambahan)
Para wanara
1. Narpati Subali
2. Narpati Sugriwa
3. Raden Jaya Hanggada
4. Kapi Jembawan
5. Kapi Hanila
6. Kapi Hanala
7. Kapi Susena
Sebangsa dagelan
1. Semar
2. Gareng
3. Petruk
4. Bagong
5. Togog
6. Belung
7. Cantrik
8. Cangik
9. Limbuk
10. emban
11. Parekan (nyai tumenggung)
12. Parekan (nyai tumenggung)
13. Oemang Ontagopa
Wayang ricikan
1. Sokosrono (srambahan)
2. Lelepah
3. Ilu-ilu
4. Kepala besar mata lebar
5. Wedon
Wayang ricikan
1. Prampogan (jawa)
2. Prampogan (danawa)
3. Kereta
4. Kuda (Putih)
5. Kuda (hitam)
6. Gajah (Diponggo)
7. Macan
8. Naga (sawer)
9. Banteng
10. Kerbau
11. Burung Garuda
12. Babi
13. Burung Jawata
senjata
1. Gada rujakpolo
2. Bindi
3. Gada
4. Cakra
5. Nawala
6. Cupu
7. Cis
8. Trisula
9. Candrarasa
10. Alu gara
11. Badama
12. Bendo
13. Arit
14. Keris besar
15. Keris luk, Cakil
16. Keris luk
17. Keris lurus Satria
18. Keris lurus
19. Panah luk
20. Panah lurus
21. Panah lurus
Jumlah wayang semua ada 176 buah senjatanya ada 21 buah. Jadi itu jumlah
wayang yang biasanya digunakan dalam pedalangan. Dene jumlah wayang yang
sudah biasanya disebut di depan bisa lebih banyak jumlahnya, semua sampai
berjumlah 370, ini ditambah senjata dan peralatannya 30 buah, semua ada 400
buah, itu belum ditambah yang lain-lain, kalau ditambah kadang-kadang sampai
500 buah. Artinya kalau ditambah misalnya gapura kraton, pohon-pohonan,
bunga-bunugaan di taman, buruan yang kecil-kecil begitu seterusnya. Biasanya
orang membuat wayang itu kalau sudah suka kadang sampai lupa, sampai barang
yang tidak biasanya ada dalam pedalangan pun dibuat wayang. Makanya
wayangnya sampai banyak sekali.
Jika orang sedang suka membuat wayang. Membuat wayang purwa sampai
lengkap serta wandanya semua, yang kuat membuat hanya orang yang kaya serta
sedang suka wayang dan ceritanya. Biasanya malah tidak bisa menjadi dalang,
hanya orang yang sedang suka cerita lakon wayang dan bisa terwujud
keinginannya bisa memainkan wayang. Sedangkan para dalang kebanyakan hanya
secukupnya saja yang penting bisa dimainkan untuk mendalang. Itu bedanya
wayang yang dibuat pedalangan dengan yang dibuat oleh para hartawan yang suka
dengan cerita pedalangan.